Pesannya jitu. ”Jangan serang lagi atau kami beneran jadi pangkalan AS.
Ayo damai, kita kan butuh untung bareng.”
Pamer taring, tapi siap diajak pelukan.
Di darat, UEA pasang badan.
Membangun ”Arsitektur Landak Pasir”. Hewan peliharaan yang durinya bikin mulut singa berdarah.
Mereka siapkan senjata laser Iron Beam. Sekali tembak biayanya nol rupiah. Gratis. Tidak ada peluru yang lebih murah daripada cahaya.
Namun, ada nestapa lain. Tak bersuara. Tak terlihat.
Tahu-tahu sebuah kapal tanker Liberia nyasar. Kapalnya di Selat Hormuz, tapi di layar navigasi, posisinya di Gurun Arab.
Jaraknya 50 kilometer dari laut. Kapal raksasa kok parkir di padang pasir?
Itu ulah peretas. Namanya manipulasi GPS.
Sekitar 1.700 kapal kena imbas. Garda Revolusi Iran tidak butuh kapal perang untuk memblokade selat.
Cukup matikan sinyalnya. Kapal nyasar, logistik macet, harga minyak dunia gila-gilaan.
Pelurunya bukan timah, melainkan gelombang elektromagnetik.
Teori Karpet Sukawati
Tempo lalu, di ruang kelas FISIP, Universitas Udayana, seorang mahasiswa bertanya.
”Pak, jadi siapa yang menang di Timur Tengah?”