Dari balik meja dosen, saya melihat ke luar jendela.
Langit Denpasar sedang cerah-cerahnya. Damai sekali. Sangat kontras dengan langit Teluk yang masih bau mesiu.
Saya tersenyum. Menjawab pertanyaan geopolitik level dewa itu sebenarnya sangat gampang.
Timur Tengah itu mirip ibu-ibu menawar barang di Pasar Sukawati.
Tarik urat. Gertak sambal. Pura-pura jalan pergi, padahal berharap dipanggil lagi.
Iran menggertak pakai rudal. AS menggertak pakai kapal induk.
Tiongkok pura-pura jadi wasit yang melerai, padahal di belakang sibuk bungkus minyak diskonan.
Pakistan senyum-senyum jadi penengah.
Dan, Uni Emirat Arab?
Mereka persis seperti penjual karpet di Dubai yang tokonya nyaris kena rudal malam itu.
Besok paginya, toko tetap buka. Di depan pintunya ada papan pengumuman kecil. Tulisannya tegas.
”Karpet tetap dijual. Karena perang tidak kenal diskon.”
Di jurnal ilmu politik, kami menyebut sikap itu sebagai resiliensi geostrategis.
Di warung kopi, kami menyebutnya: lu jual, gue beli, tapi jangan sampai gue yang bayar uang parkirnya.
Sang Kucing mungkin sedang menjilati lukanya.
Tapi, ia tidak akan tamat.