Untuk mencegatnya, UEA harus menembakkan rudal Patriot.
Harganya Rp65 miliar per biji.
Kalau pakai THAAD? Rp190 miliar. Iron Dome memang bersahabat, tapi tetap Rp2 miliar sekali tekan tombol.
Satu malam itu, Iran mungkin cuma keluar uang Rp40 miliar.
Namun, UEA harus membakar uang sampai Rp1 triliun untuk menangkisnya.
Rasionya satu banding dua puluh enam. Nombok total.
Itu bukan operasi militer. Itu audit berdarah.
Di abad ke-21, perang asimetris punya rumus baru.
Perang bukan soal siapa yang paling kuat menembak. Namun, siapa yang paling tahan boncos.
Setiap sirene meraung, yang menjerit bukan cuma warga.
Kas negara ikut berteriak.
Setiap pesawat nirawak murahan yang jatuh adalah kemenangan bagi yang mengirim. Bukan yang menembak.
Landak Pasir dan Kapal Nyasar
Apa Si Kucing pasrah? Tentu tidak. Kalau terpojok, pasti cakar kucing keluar.
Di panggung depan, ia mengaum. Mengutuk Iran. Menggalang solidaritas Arab. Mengirimkan pesan: ”Kami bukan sasaran empuk”.
Namun, di belakang layar, gayanya beda. Jalur diplomasi lewat Islamabad dihidupkan.