Koci Jatim 2021 Tapak Tilas Jejak Cheng Ho di Jatim

Koci Jatim 2021 Tapak Tilas Jejak Cheng Ho di Jatim

Tempat peribadatan umat Tri Dharma ini dibangun sekitar 1935. Paulina membuktikan kalau Kelenteng Mbah Ratu memiliki ciri akulturasi budaya Tionghoa, Kejawen, dan Timur Tengah. Hal itu mirip dengan apa yang ada di Masjid Muhammad Cheng Ho, Pandaan.

Bukti jejak kedatangan Laksamana Cheng Ho adalah sebuah kayu yang diperkirakan sebagai bagian kapal yang dikendarai Cheng Ho masih tersimpan di tempat itu. Benda tersebut ditemukan sekitar 600 tahun lalu dan sampai sekarang masih disiampan di sana.

”Ukuran kayunya kurang lebih memiliki panjang hampir 9,10 meter dan  lebar sekitar 60 sentimeter. Kayunya ditemukan masyarakat karena terdampar di dekat pelabuhan rakyat Tanjung Perak. Kemudian disimpan di beberapa tempat sebelum akhirnya ada di Kelenteng Mbah Ratu,” kata Paulina.

Kelenteng di Jalan Demak tersebut sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan. Utamanya bagi mereka yang ingin memberi penghormatan untuk pelaut dengan nama asli Ma He tersebut

Umat Islam di Surabaya kemudian memberi penghormatan dengan membangun sebuah masjid. Sama seperti yang ada di Pandaan.

Ferdinand dan Paulina kemudian mengunggah konten video kunjungannya itu ke media sosial. Sebagai bentuk promosi tempat pariwisata di Jatim. Sekaligus memberitahu akulturasi budaya yang terjadi sebagai bentuk keberagaman di Indonesia.

Meski konten hanya bisa ditonton secara daring, dua dari 20 finalis ini tampak sudah paham betul dengan instruksi. Mereka menyampaikannya dengan gestur serta artikulasi yang baik.

Pakaiannya sopan dan datang dengan sikap yang santun. Mereka sekaligus berinteraksi dengan pengurus atau perwakilan kedua tempat guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Cara yang dilakukan sekaligus menerapkan apa yang sudah diajarkan oleh Agustinus Eko Agus. Perwakilan dari Koci Indonesia itu sempat bertatap muka dengan para semifinalis untuk memberi pendalaman tentang organisasi yang digawangi.

Seorang Koci harus berpenampilan rapi. Pembawaannya santun. Ada standar pakaian yang harus ditaati kalau sedang bertugas. Apalagi kalau bertemu masyarakat umum. ”Mereka harus jadi sosok yang representatif sehingga dapat meninggalkan kesan baik bagi siapa pun,” kata Agustinus.

Koci merupakan ajang yang sudah dilaksanakan sejak 2002. Dilakukan sebagai bentuk mempromosikan budaya Tionghoa sebagai salah satu kekayaan di Indonesia. Mereka rencananya akan menggelar pemilihan Koci level nasional pada 2022.Jatim digadang-gadang dapat memberi gebrakan. Agustinus mengatakan bahwa selama dua tahun berdiri, organisasi Koci termuda itu sukses memberi kejutan dengan melahirkan sosok-sosok potensial. Ada kemungkinan talenta dari Jatim dapat mendominasi di level nasional. (Ajib Syahrian)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: