Prof Rahma Sugihartati Segera Dilantik Sebagai Guru Besar FISIP Unair

Prof Rahma Sugihartati Segera Dilantik Sebagai Guru Besar FISIP Unair

Prof Rahma Sugihartati dan Prof Bagong Suyanto memegang buku Ryan, Transformasi Sang Jagal Jombang yang kisahnya pernah dimuat di Harian Disway.-Faizal Pamungkas/Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Surat Keputusan (SK) sebagai guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) telah diserahkan ke Prof Rahma Sugihartati, Kamis, 9 Juni 2022. Maka, pada 10 Juli kelak, dia akan dilantik sebagai Guru Besar Sains Informasi, Universitas Airlangga. 

Pasangannya, Bagong Suyanto, telah lebih dulu menyandang gelar profesor dan guru besar FISIP. Keduanya kini menjadi salah satu dari sedikit pasutri profesor di Indonesia.

Rahma menerima SK dari Rektor Unair Prof Mohammad Nasih. "Namun dalam SK tertulis bahwa saya resmi menjadi guru besar sejak 1 Mei 2022. SK tersebut ditandatangani oleh Kemendikbud Ristek pada 27 Mei 2022," kata Rahma saat ditemui, Senin, 13 Juni 2022.

Dia dilantik sebagai Guru Besar FISIP bidang kajian Sains Informasi karena kiprah panjangnya di bidang keilmuan tersebut. Baik dalam mengajar serta penelitian. 

Rahma juga mengajar mata kuliah inti. Yakni Informasi dan Kebudayaan, Minat Baca & Budaya Literasi, Perilaku Informasi dan Masyarakat Informasi.

Sebagai profesor, karya Rahma kerap mewarnai berbagai jurnal ilmiah. Baik skala nasional maupun internasional. Salah satunya Journal of Customer Culture. Jurnal tertua di UK dan sangat prestise. 

Dia menulis artikel tentang fandom industri budaya populer. "Tentang para penggemar novel. Kemudian diinterpretasi dalam konteks kapitalisme budaya populer global," ujar perempuan 58 tahun itu.

Suaminya, Prof Bagong Suyanto, telah lebih dulu menjadi profesor dan guru besar FISIP Unair dalam bidang kajian Sosiologi Ekonomi. Sebagai pasutri profesor, keduanya kerap berdiskusi soal Ilmu Sosial. "Paling banyak berdiskusi ketika sama-sama jadi dosen pembimbing skripsi atau tesis," ungkapnya.

Kedekatan keduanya terjadi sejak masa kuliah. Mereka mulai berpacaran ketika menginjak semester tiga. "Kami satu angkatan. Tahun 1984. Pernah penelitian bareng pada 1988. Tentang helmisasi. Itu yang membuat kami semakin dekat," kenangnya. 

Meski sebagai pasutri profesor, kehidupan rumah tangga mereka layaknya rumah tangga pada umumnya. "Malah diskusi tentang keilmuan, prosentasenya tidak sampai 50 persen," ujar Prof Bagong. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu dengan bersantai sambil membahas hal sehari-hari. (Guruh Dimas Nugraha)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: