Tips Mudik Bersama HONDA 6 : Teknik Pengereman dan Aquaplaning

Tips Mudik Bersama HONDA 6 : Teknik Pengereman dan Aquaplaning

Memeriksa Tread Wear Indicator (TWI) untuk memastikan ketebalan tapak ban. Semakin tipis tapak ban, semakin panjang jarak pengereman efektif-Foto : Andika Bagus Priambodo/Harian Disway-

HARIAN DISWAY – Salah satu yang penting dalam hal mengemudi di jalan tol adalah teknik dan jarak pengereman. Hal ini karena kecepatan rata-rata kendaraan yang tinggi di jalan tol. Maka timing dan teknik pengereman menjadi penting untuk diketahui dan dikuasai. 

Jarak dan Teknik Pengereman

Servis Manager Honda Surabaya Center Eko Yuwono mengatakan, dalam kondisi normal, jarak pengereman ideal adalah 50 meter dari objek didepan. Meskipun hal ini relatif tergantung pada kondisi dan tipe mobil. 

Mengerem tidak hanya sebatas menginjak pedal rem semata. Ada langkah-langkahnya sesuai medan yang dihadapi.

BACA JUGA:Tips Mudik Bersama HONDA 5 : Perilaku Berkendara di Jalan Tol

BACA JUGA:Menhub: Puncak Arus Balik Lebaran Dimulai Besok, Hindari Lima Hari Ini!

Eko mengatakan, pengereman dilakukan secara perlahan, tidak bisa langsung tancap rem. Dalam kondisi melaju cepat, pengereman tergantung mobil yang digunakan. Mobil yang dilengkapi dengan fitur anti-lock braking system (ABS) memiliki resiko lebih rendah untuk selip. 

“Sedangkan yang non-abs harus tetap menjaga jarak pengereman dan mengerem perlahan dengan intensitas lebih cepat sedikit dari kondisi normal,” jelas Eko.

Faktor lain yang mempengaruhi jarak pengereman adalah ketebalan tapak ban. Eko mensimulasikan, ban tapak yang baru memiliki jarak pengereman 38 persen lebih pendek daripada tapak ban yang sudah aus. Jika tapak ban mulai menipis, pengemudi harus ekstra hati-hati melintas di permukaan yang basah. Jika sudah aus sepenuhnya, maka disarankan untuk segera mengganti ban. 


Tread Wear Indicator (TWI)-tyremarket.com-

Aquaplaning dan Cara Mengatasinya.

Salah satu yang menjadi momok dalam proses pengereman adalah hilangnya traksi akibat lapisan air yang muncul di permukaan ban atau jalan. Memisahkan antara keduanya. Fenomena ini dikenal dengan aquaplaning. Mobil yang mengalami aquaplaning lebih susah untuk dikendalikan. 

Eko mengatakan, penyebab paling umum dari aquaplaning adalah saat mobil melewati genangan air. “Biasanya mobil akan terasa seperti melayang saat aquaplaning, kuncinya tidak boleh panik untuk menghindari resiko oleng atau terbalik,” jelas Eko. 

BACA JUGA:Centang Biru Twitter Muncul Lagi, Banyak yang Menolak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: