Mahasiswa, Dosen, dan Rektor Unesa Main Ludruk Tampilkan Drama Keluarga Keraton Surabaya

Mahasiswa, Dosen, dan Rektor Unesa Main Ludruk Tampilkan Drama Keluarga Keraton Surabaya

Rektor Unesa Prof Nurhasan (kiri) berperan menjadi Adipati Jayengrana bersama Putri Purbawati (tengah) sang ibu (kanan) yang menolak lamaran Pangeran Situbondo. -Otto/Humas Unesa-

HARIAN DISWAY – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar pertunjukan ludruk dengan lakon Babad Surabaya dalam rangka Dies Natalis ke-59 di Gedung Pertunjukan Sawunggaling pada 19 Agustus 2023.

Dengan iring-riringan musik tradisional, pementasan teater yang disutradarai oleh dosen Fakultas Bahasa dan Seni Dr. Trisakti dan Yohan Susilo tersebut menceritakan sebuah kisah asmara di kalangan keluarga Keraton Surabaya.

Dikisahkan seorang putri keraton bernama Purbawati anak dari Adipati Jayengrana dilamar oleh Pangeran Situbondo yang merupakan anak dari Adipati Cakraningrat.

Pada hari lamaran, pangeran dan pengawalnya tiba di kerajaan Adipati Jayengrana. Alih-alih menerima dengan sambutan yang hangat, sang putri justru mengusir pangeran Situbondo dengan nada yang tinggi dan menolak lamarannya mentah-mentah.

BACA JUGA: Kampung Maspati Tertawa! Luntas Sajikan Jaka Tarub dalam Pentas Keliling Ludruk Merdeka

BACA JUGA: Super-Banyol, Grup Ludruk Luntas Hibur Tamu Ulang Tahun Harian Disway

Sang ibunda yang hadir pada pertemuan itu berusaha menenangkan anaknya dan mencoba untuk berdiskusi baik-baik dengan putrinya agar dapat menolak secara halus lamaran pangeran. Maka dibuatlah sebuah syarat yang diyakini sang mustahil dilakukan oleh Pangeran Situbondo.
Pertunjukan ludruk jelang dies natalis ke 59 Universitas Negeri Surabaya-Otto-Humas Unesa
Lamarannya akan diterima oleh sang putri dan pihak keluarga jika Pangeran Situbondo mampu membabat alas Wonokitri. 

Itupun sang Pangeran harus melakukannya "tanpo pusoko" alias harus menebang seluruh pohon di hutan Wonokitri tanpa menggunakan senjata’. Alangkah kagetnya keluarga Jayengrana saat pangeran menyanggupi persyaratan tersebut.

Di lain pihak seorang ksatria kaya raya bernama Joko Taruna yang telah meminang putri Purbawati jauh-jauh hari langsung cemburu tatkala berita tentang dilamarnya sang kekasih tercinta terdengar sampai ke telinganya.

Ia menyusun rencana untuk menggagalkan usaha Pangeran Situbondo. Pertikaian pun dimulai, Joko Taruno dengan strategi liciknya mengirim pasukan jin ke hutan Wonokitri guna membunuh Pangeran Situbondo.

Namun upaya itu gagal karena ternyata Pangeran Situbondo memiliki kesaktian tinggi. Para jin yang dikirim pun semburat dan lari ke segala arah. 

Namun Joko Taruna tidak menyerah untuk mengacaukan usaha Pangeran Situbondo, ia lantas mengirim dua warga desa yang bernama Joko Jumput dan Joko Welly yang dibekali pusaka pecut sakti untuk membunuh pangeran yang kakinya pincang sebelah itu.

Joko Taruna menjanjikan jika mereka berhasil membunuh Sang Pangeran, maka mereka berdua akan diberi hadiah dua gedung tinggi nan megah beserta isinya.

Untungnya Pangeran Situbondo berhasil kabur dari sergapa Joko Jumput dan Joko Welly. Ia berhasil menghindar sebelum badannya benar-benar terbelah oleh pecut pusaka dengan kesaktian mengerikan itu. 

Tapi dalam proses pelarian itu, Pangeran Situbondo meninggalkan ikat kepalanya yang jatuh saat pertempuran. 

Keduanya assasin akhirnya mengambil ikat kepala pangeran dan menyerahkannya kepada bos mereka yakni Joko Taruna. Namun, seakan ingkar janji, Jaka Taruna langsung pergi tanpa mempedulikan Joko Jumput dan Joko Welly.

BACA JUGA: Kenangan tentang Maestro Ludruk Surabaya Cak Sapari; Dagelannya Dikangeni Tetangga Kampung

BACA JUGA: Kemeriahan Pesta Seni Anak-Anak di Balai Budaya: Atraksi Musik, Tari, hingga Ludrukan

Tiba di kediaman Adipati Jayengrana, Joko Taruna memberikan kabar bahwa pangeran Situbondo telah meninggal akibat bertarung melawan dirinya sembari menyerahkan ikat kepala pangeran kepada Adipati sebagai bukti pertarungan sengit itu.


Ludruk Unesa: perdebatan Joko Taruno dengan Joko Jumput dan Joko Welly atas siapa yang telah membunuh Pangeran Situbondo-Otto-Humas Unesa

Di tengah keraguan Adipati dalam menilai kebenaran berita yang disampaikan Joko Taruno, muncul Joko Jumput dan Joko Welly secara tiba-tiba dan masuk ke dalam komplek keraton untuk menagih janji Joko Taruno.

Mereka berdebat untuk menyatakan siapa sebenarnya yang telah membunuh pangeran Situbondo. Adipati Jayengrana menyuruh mereka untuk bertarung dan saling adu kesaktian. Barang siapa yang menang maka akan menjadi menantunya.

Pertempuran pun terjadi. Pecut Joko Jumput yang terkenal sakti menghantam tubuh Joko Taruno dan merubahnya menjadi batu.

Pada akhir cerita, kedua tokoh utama yakni Pangeran Situbondo dan Joko Taruna sama-sama gagal meminang putri Purbowati.

Dalam pementasan, Rektor Unesa Prof Nurhasan memerankan tokoh utama Dipati Jayengrana. Prof Setya Yuwono berperan sebagai Adipati Cakraningrat, sementara Putri Purbawati yang diperagakan Herma Retno Prabayanti.

Ada Kolektus Oky Ristanto yang memerankan karakter Joko Taruna, Joko Jumput yang diperankan oleh Dr. Muhamad Sholeh, Joko Welly yang diperankan oleh Dr. Welly Suryandoko, dan Pangeran Situbondo yang diperankan oleh Lutfi Saksono.

Selain dramatis, para pemeran sekali-kali melontarkan humor yang membuat penonton hanyut dalam cerita dengan sesekali tertawa dan bertepuk tangan.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: