Inilah Profesor Kehormatan Pertama Kali yang Diangkat Unesa: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Halim Iskandar

Inilah Profesor Kehormatan Pertama Kali yang Diangkat Unesa: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Halim Iskandar

Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.kes., (tengah) saat proses penyematan gelar profesor kehormatan kepada Mendes PDTT Prof. (H.C) Dr. (H.C) Abdul Halim Iskandar (kiri) di Graha Unesa, Surabaya.-Julian Romadhon-

BACA JUGA: Jonatan Christie ke Final Hongkong Open Tapi Bikin Deg-degan, Netizen: Tolong Diselesaikan Sesingkat-singkatnya

Tahap pertama program ini sudah berjalan di wilayah Bojonegoro. Sudah selesai masa studinya. Saat ini program itu berjalan di Magetan.

Inovasi dari Ketua DPW PKB Jatim ini dalam upaya pengembangan desa, memunculkan kepercayaan dari masyarakat. Sebab, dampak kerja yang sudah dijalankan. “Jadi kepercayaan itu yang penting.

Bahwa ketika diberi kesempatan, kami bisa membantu kesejahteraan rakyat desa,” ujarnya.

Hari itu, Abdul Halim Iskandar menyampaikan orasi ilmiah berjudul: Bahasa Sebagai Media Komunikasi Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa: Kajian Entopragmakritis.

Melalui kajian itu, Gus Halim menyatakan bahasa memiliki peran penting dalam upaya pembangunan kualitas SDM dan ekonomi masyarakat pedesaan. “Kalau tidak begitu, maka tidak akan bisa penyampaian pesan dicerna dengan baik,” ujarnya.

BACA JUGA: Gus Ipul Ikut Siapkan Haul KH Abdul Hamid

BACA JUGA: 17 Tahun Universitas Ciputra Surabaya, Luncurkan Buku Pamerkan Kesuksesan Alumni

Penerapan bahasa pada bentuk komunikasi untuk menyosialisasikan program juga melihat pada budaya yang ada di suatu daerah.

“Ini yang selalu disampaikan Pak Presiden. Semua hal akan mudah diselesaikan dengan komunikasi yang bagus. Salah satu komunikasi yang bagus dengan penggunaan rancangan dan penggunaan konsep yang bisa diterima masyarakat,” bebernya.

Pola sosialisasi dengan bahasa juga harus mengedepankan sopan santun saat penerapannya. Termasuk menggunakan bahasa daerah dalam upaya pembangunan desa. Sekaligus untuk menjaga keberagaman di tanah air.

“Makanya saya angkat teori-teori kesantunan bahasa. Teori yang mengatakan bahasa itu tidak bebas nilai. Kami berbicara sesuai kondisi budaya dan cara penyampaian juga berbeda-beda,” katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: