Wajib Ditiru! Angka Tengkes Kota Surabaya Tinggal 1,22 Persen, Eri Cahyadi Beber Strateginya

Wajib Ditiru! Angka Tengkes Kota Surabaya Tinggal 1,22 Persen, Eri Cahyadi Beber Strateginya

Strategi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turunkan kasus tengkes-Humas Pemkot-

SURABAYA, HARIAN DISWAY- Penanganan kasus tengkes di Surabaya patut diacungi jempol. Jumlahnya tinggal 529 balita saja per 26 September 2023. Ini berdasarkan data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).

 

Penurunannya pun begitu signifikan setiap tahun. Pada 2021 tembus 6.722 kasus dan turun menjadi 923 kasus pada akhir 2022. Kini sudah tersisa 1,22 persen saja.

 

Tentu capaian ini bukan sulapan. Ada kerja keras di baliknya. Terutama lewat berbagai program yang dijalankan oleh Pemkot Surabaya bersama seluruh stakeholder di Kota Pahlawan.

 

"Sejak awal diamanahi sebagai wali kota, kami memang langsung tancap gas soal stunting. Presiden Jokowi dan Ibu Megawati selalu pesan soal pentingnya penanganan stunting," ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kepada awak media, Rabu, 27 September 2023.

 

Eri pun menargetkan Kota Pahlawan bisa bebas tengkes secepatnya. Lantas bagaimana strateginya?

BACA JUGA: Pengelola Jalan Tol Gempol Pasuruan Serahkan Bantuan Untuk Balita Stunting Lokal

 

Pertama, setiap calon pengantin langsung terdeteksi data kesehatannya. Semua data terintegrasi antara Kantor Kementerian Agama dan Puskesmas. Ini penting untuk mempermudah dan mengetahui orang-orang yang memiliki risiko kekurangan gizi. 

 

"Jadi langsung ketahuan, bagaimana lingkar lengan atas dan indeks massa tubuh calon pengantinnya," kata Eri. Ini penting untuk mengetahui potensi atau  risiko kekurangan energi kronis atau kekurangan gizi. Sehingga bisa segera diantisipasi. 

 

Di situlah Pemkot Surabaya melalui Puskesmas melakukan intervensi. Bisa berupa tambahan gizi dan sebagainya.

 

Selain itu, pendataan tersebut mengandalkan gotong royong warga Surabaya. Salah satunya melalui aplikasi Sayang Warga. Melalui aplikasi tersebut para Kader Surabaya Hebat (KSH), RT/RW, dan warga bisa mendata serta melaporkan kondisi balita di sekitarnya.

 

Menurut Eri, berkat kehebatan gotong royong inilah semua permasalahan terdeteksi dan kita beri solusi. Tidak hanya tengkes. Tapi juga soal rumah tidak layak huni, masalah pendidikan, sosial, dan sebagainya.

 

Bahkan di tingkat RW ada dapur umum di mana warga gotong royong saling bantu untuk pemberian makanan bagi balita di wilayahnya.

 

Kedua, pemkot rutin setiap minggu sekali membagikan sekaligus mensosialisasikan manfaat Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri di sekolah-sekolah. Dan bisa diambil di puskesmas seluruh wilayah Surabaya. Ada pula giat Krida Gizi  oleh Saka Bakti Husada dan pemeriksaan kesehatan pada Anak Usia Sekolah. 

 

Ketiga, pemkot menggelar sosialisasi kepada calon pengantin (catin) melalui program Pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Di dalam program ini, catin akan mendapatkan beberapa pelayanan.

 

Mulai dari pelayanan gizi dan kesehatan hingga konseling. Pemkot menggandeng Tim Pendamping Keluarga (TPK) memberi penyuluhan dan pemantauan kesehatan kepada sasaran yang berisiko tengkes. 

 

Keempat, ada pendampingan untuk ibu dan balita. Terutama para ibu yang baru memiliki anak usia balita diberikan penyuluhan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Juga pemberian pangan olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) yang diresepkan oleh dokter spesialis anak kepada balita malnutrisi atau dengan penyakit tertentu.

 

Kelima, ada pula pemberian Taburan Ceria (Taburia) multivitamin dan mineral untuk balita. Memberikan menu sehat pada ibu balita serta mempraktekkan demo memasak makanan sehat.

 

Bahkan, ada pula program pemberian permakanan stunting, Kampung ASI, Jago Ceting yang digerakkan bersama PKK dan lintas sektor, imunisasi, aksi konvergensi penanganan stunting dan masih banyak lainnya.

 

Sebab, kata Eri, penurunan angka tengkes itu tak lepas dari delapan aksi konvergensi yang dilakukan oleh pemkot selama ini.

BACA JUGA: Dilantik Gubernur Jatim sebagai Pj Bupati Pasuruan, Dr Andriyanto akan Perangi Stunting

 

Secara rutin, pemkot melakukan pelaksanaan rembuk stunting di tingkat kota, mulai dari kecamatan, kelurahan, puskesmas, PKK, tiga pilar dan peran serta tokoh masyarakat. 

 

Dengan konvergensi tersebut, tersusun pemecahan masalah yang ditemukan dengan intervensi sensitif mencapai 70 persen dan spesifik 30 persen, sesuai masing-masing wilayah di kelurahan dan kecamatan.

 

"Alhamdulillah dengan berbagai program itu, angka kasus stunting di Surabaya terus turun dan terendah se-Indonesia,” tandasnya.

 

Tentu saja, semua strategi itu bisa ditiru oleh pemkot maupun pemkab lain di seluruh Indonesia. Terutama yang kasus tengkesnya meroket. (Mohamad Nur Khotib)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: