Motif Mutilasi Istri di Malang

Motif Mutilasi Istri di Malang

Ilustrasi suami memutilasi istri di Malang, Jawa Timur.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA: Rumitnya Kasus Mutilasi Wanita di Bekasi

Kompol Danang: ”Pembunuhan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB (sekitar dua setengah jam dari saat dijemput). Caranya, dipukul dengan tangan, lalu dicekik. Setelah meninggal, korban dimutilasi. Menggunakan golok dan pisau kecil. Jadi sepuluh potongan.”

James seperti paham cara membikin badan manusia jadi ringkas. Menurut penyidik, sepuluh potongan itu begini: Kepala sampai leher. Lengan kanan atas-telapak tangan. Lengan kiri atas-telapak tangan. Torso (badan). Paha atas kanan-lutut. Paha atas kiri-lutut. Betis kanan-engkel. Betis kiri-engkel. Telapak kaki kanan. Telapak kaki kiri.

Semua potongan berbentuk lurus dan bulat. Artinya, tidak ada belokan. Sebab, James memotong dua telapak kaki yang merupakan belokan. Semua itu dikumpulkan dalam ember plastik besar, biasa buat cucian pakaian. Ringkas. 

BACA JUGA: Mutilasi Bekasi Cocok dengan Teori Fadil

James menyerahkan diri ke Polsek Blimbing, Minggu, 31 Desember 2023, sekitar pukul 08.00 WIB. Pengakuan James mengagetkan polisi di sana. Karena sangat serius, hal itu dilaporkan ke Polresta Malang Kota. Polresta pun segera memeriksa, mengolah TKP.

Motif pembunuh memutilasi korban beragam. Umumnya untuk menghilangkan jejak.

Raj Persaud, konsultan psikiatri di London, Inggris, menulis artikel di Huffingtonpost, 8 Agustus 2012, berjudul The Psychology of Corpse Dismemberment-The Motivation Behind the Most Grotesque of Crimes, mengulas itu. Mencontohkan beberapa pembunuhan disertai mutilasi di Inggris dan negara-negara Eropa.

Menariknya, ia mengutip hasil riset Helina Hakkanen-Nyholm, mantan profiler kriminal di Kepolisian Finlandia. Nyholm guru besar psikologi forensik di dua universitas: University of Eastern Finland dan Helsinki University.

Ketika masih aktif di kepolisian, Nyholm bagian profiler pembunuh. Salah satunya pembunuh-mutilasi. Pengalaman Nyholm aneh-aneh. Dia pernah mendampingi interogator polisi, mewawancarai pembunuh yang memakan sebagian tubuh korban. Padahal, hasil uji psikologis, pelaku tidak gila (di Indonesia ada Sumanto).

Pembunuh ditanya, mengapa sampai memakan daging korban? Dijawab: ”Ingin merasakan kepuasan makan daging korban.”

Ditanya lagi, bagaimana rasanya? Dijawab: ”Tak tahu. Rasanya sama saja dengan daging lainnya.” Maksudnya, daging sapi mentah yang biasa ia makan. Menandakan kebencian mendalam pelaku terhadap korban.

Dia membagi tiga motif pembunuhan-mutilasi.

Pertama, defensif. Pelaku ingin bertahan supaya tidak ditangkap polisi. Mutilasi sebagai upaya pelaku menghilangkan barang bukti. 

Kedua, agresif. Pelaku memutilasi akibat emosional kuat dan sangat agresif. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: