Merayakan Idulfitri di Antara Kemewahan dan Kelaparan

Merayakan Idulfitri di Antara Kemewahan dan Kelaparan

Pada hari yang seharusnya dipenuhi dengan berkah dan kebersamaan, Idulfitri sering kali menunjukkan dua sisi yang sangat berbeda. --IStockphoto

HARIAN DISWAY - Pada hari yang seharusnya dipenuhi dengan berkah dan kebersamaan, Idulfitri sering kali menunjukkan dua sisi yang sangat berbeda. Di satu sisi, kita melihat kemeriahan yang bersinar—baju baru, makanan yang melimpah, bahkan pengecatan rumah untuk menyambut Hari Kemenangan.

Namun, di sisi lainnya, banyak saudara kita yang terjebak dalam kelaparan dan keterbatasan, bahkan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Fenomena ini memicu perdebatan di masyarakat dan menimbulkan kritik tajam terhadap ketimpangan sosial yang terjadi pada momen suci ini.

Kemewahan dan Kelaparan

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 60 persen keluarga di Indonesia dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Mereka mampu membeli baju baru, menyajikan berbagai makanan, dan bahkan merenovasi rumah untuk menyambut hari kemenangan.

BACA JUGA: 5 Kue Lebaran yang Populer saat Idulfitri, Yang Mana Favorit Anda?

Namun, di sisi lain, banyak masyarakat masih berjuang dengan keterbatasan ekonomi. Angka ini mencerminkan kelompok yang terpaksa memilih antara membeli bahan pokok atau memenuhi kebutuhan dasar lainnya, sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk merayakan hari raya dengan semangat yang sama.

Sebaliknya, 40 persen keluarga, terutama yang tinggal di daerah perbatasan atau di wilayah perkotaan dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, tidak memiliki kesempatan yang sama. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka bahkan kesulitan untuk mendapatkan cukup makanan untuk berbuka puasa.

Angka ini mencerminkan jurang sosial yang semakin melebar, di mana kemeriahan perayaan hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat, sementara sisanya harus menghadapi kenyataan pahit kelaparan. Data ini menjadi gambaran nyata tentang ketimpangan sosial di tengah perayaan yang sarat dengan simbol kemewahan.

BACA JUGA: Idulfitri di Mandalay, Myanmar: Salat yang Tertunda di Tengah Duka karena Gempa

Di kota-kota besar, kemeriahan terlihat jelas di setiap sudut: jalanan dipenuhi lampu hias dan toko-toko menampilkan koleksi busana terbaru, sementara di pelosok desa, banyak keluarga yang masih berjuang untuk mendapatkan pangan yang cukup.

Pandangan Para Tokoh Agama

Pandangan ini diwakili oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang berfungsi sebagai cermin moral dalam menghadapi fenomena ini. Menurut pernyataan resmi MUI, momentum Idulfitri seharusnya menjadi saat untuk meningkatkan kepedulian sosial dan berbagi dengan sesama.

Ustaz H. Abdullah Syafi'i, salah satu narasumber dari MUI, menyatakan, "Idulfitri bukan hanya hari kemenangan secara ritual, melainkan juga momentum untuk mewujudkan keadilan sosial. Kita harus memastikan bahwa kebahagiaan satu lapisan masyarakat tidak datang dengan mengorbankan saudara-saudara kita yang sedang berjuang untuk mendapatkan makanan. Zakat, infaq, dan sedekah harus dijalankan dengan penuh integritas agar berkah Idulfitri dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat."

BACA JUGA: Idulfitri 2025, Gubernur Khofifah Open House di Grahadi

Dari sudut pandang sosial, fenomena ketimpangan ini mengingatkan kita pada sebuah simfoni. Bayangkan sebuah orkestra yang harus memainkan nada-nada harmonis agar menghasilkan musik yang indah.

Namun, jika hanya beberapa alat musik yang berbunyi merdu sementara yang lain terdiam atau bahkan mengeluarkan nada sumbang, keseluruhan harmoni akan terganggu. Begitulah seharusnya Idulfitri: sebuah simfoni kebahagiaan yang harus dirasakan oleh seluruh umat, bukan hanya segelintir orang.
Ketimpangan dalam perayaan Idulfitri bukanlah masalah baru, melainkan cerminan dari disparitas ekonomi yang telah berlangsung lama. -Slamet Riyadi-AP Photo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: