Generasi Emas Indonesia Digerus Joget TikTok: Kado Kemerdekaan

Generasi Emas Indonesia Digerus Joget TikTok: Kado Kemerdekaan

ILUSTRASI Generasi Emas Indonesia Digerus Joget TikTok: Kado Kemerdekaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MASIH dalam nuansa memperingati kemerdekaan, capaian usia delapan puluh tahun merupakan momentum penting untuk refleksi diri bangsa. Impian mewujudkan generasi emas hanya menyisakan waktu 20 tahun hingga 2045 saat genap 100 tahun Indonesia merdeka. 

Harapannya, saat itu sudah siap generasi yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi. 

Komposisi generasi emas tahun 2045 akan diisi mereka yang lahir di era sesudah tahun 2000-an. Sebagian dari mereka saat ini berada pada fase usia perkembangan anak dan remaja. 

Idealnya, saat ini mereka sedang tumbuh menjadi anak dan remaja yang cerdas, kreatif, tangguh, berakhlak mulia, memiliki literasi digital, dan berdaya saing global. 

BACA JUGA:Mengenang 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer dan Pengaruhnya bagi Generasi Masa Kini

Ciri khas perkembangan anak dan remaja berupa rasa ingin tahu dan daya eksplorasi dapat menjadi potensi pendukung terwujudnya kondisi ideal tersebut. 

Namun, kenyataannya, DataIndonesia.id menyebutkan, hingga April 2025 terdapat 184,95 juta pengguna TikTok di Indonesia. Jumlah pengguna TikTok tumbuh secara eksponensial dan terbanyak di dunia saat ini. 

Pertumbuhan pesat TikTok memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap perkembangan remaja. Kekhawatiran itu ada benarnya, 70 persen konten TikTok yang dibuat serta dilihat remaja adalah joget (Firdaus, dkk 2021). 

Dengan tren pengguna TikTok yang meningkat dari tahun ke tahun, data itu juga bergerak naik.

TikTok merupakan aplikasi berbagi video pendek yang memungkinkan pengguna untuk membuat, mengedit, dan membagikan konten kreatif mereka kepada audiens global. Setiap bulan pengguna TikTok menghabiskan 38 jam 20 menit di TikTok (CNBC Indonesia, 2025). 

Ancaman aplikasi TikTok bukan hanya pada remaja, melainkan juga anak-anak. Banyak anak di bawah 18 tahun yang memalsukan umur untuk membuat akun TikTok. 

Akibatnya, anak berisiko terpapar konten dewasa dan nirmanfaat, termasuk joget TikTok yang tidak sesuai usianya. joget TikTok yang sedang tren saat ini menjadi fenomena sangat populer.

Melimpahnya joget TikTok memberikan dampak negatif pada anak dan remaja. Di antaranya, kurangnya fokus pada pendidikan, gangguan kesehatan mental, kurangnya kreativitas yang positif, ketergantungan, dan pengaruh negatif pada pola tidur. 

Anak dan remaja yang terlalu sibuk dengan joget TikTok akan kehilangan fokus pada pendidikan. Normalisasi joget TikTok tidak bermutu di sekolah bahkan menjadi sesuatu yang memprihatinkan dunia pendidikan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: