Teleskop Hubble Tangkap Kehancuran Kosmik, Pecahkan Misteri Puluhan Tahun
Ilustrasi ledakan kosmik.--freepik.com
HARIAN DISWAY - Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA berhasil menangkap pemandangan langka berupa sisa puing debu.
Materi tersebut dihasilkan dari dua tabrakan kosmik besar di sekitar sebuah bintang muda bernama Fomalhaut.
Pengamatan itu sekaligus membantu para ilmuwan memecahkan misteri yang telah membingungkan dunia astronomi selama puluhan tahun.
Bertahun-tahun lalu, para ilmuwan mendeteksi sebuah titik terang dan padat di dekat Fomalhaut. Objek itu sempat diyakini sebagai sebuah planet dan terus dipantau pergerakannya. Namun, pengamatan terbaru Hubble pada 2023 justru menunjukkan sesuatu yang tidak terduga.
BACA JUGA:NASA Temukan Eksoplanet Mirip Bumi: TOI 700 e, Harapan Baru untuk Kehidupan di Luar Angkasa
BACA JUGA:5 Hal Tak Terduga yang Bisa Melestarikan Planet
Titik terang tersebut tiba-tiba menghilang. Sementara titik terang baru muncul di lokasi lain. Fenomena itu menjadi petunjuk kuat bahwa objek tersebut bukanlah planet. Melainkan awan debu hasil tabrakan dahsyat antar benda langit.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa mereka tengah menyaksikan sisa-sisa dua benturan kosmik besar. Dalam peristiwa itu, batuan ruang angkasa berukuran raksasa saling menghantam dan menciptakan awan debu tebal.

Ilustrasi yang disediakan oleh NASA pada Desember 2025, menggambarkan dampak dari tabrakan antara dua batuan luar angkasa masif yang mengorbit bintang Fomalhaut.-NASA, ESA, STScI, Ralf Crawford, Space Telescope Science Institute-AP
Awan tersebut cukup terang. Sehingga sempat menyerupai planet dalam pengamatan awal. Seiring waktu, debu itu menyebar dan akhirnya memudar hingga tak lagi terlihat.
Diperkirakan, batuan ruang angkasa yang terlibat dalam tabrakan tersebut memiliki diameter setidaknya 60 kilometer.
BACA JUGA:Asal Usul dan Makna Nama-Nama Planet di Tata Surya
BACA JUGA:Langka! Fenomena Parade Planet 3 dan 4 Juni 2024 Bisakah Dilihat dari Indonesia?
Peristiwa seperti itu tergolong sangat langka. Berdasarkan teori yang ada, tabrakan sebesar itu hanya terjadi di wilayah yang sama sekitar sekali dalam 100 ribu tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: ap