#Reset Indonesia, Becermin ke Arah Pembangunan Bangsa

#Reset Indonesia, Becermin ke Arah Pembangunan Bangsa

ILUSTRASI #Reset Indonesia, Becermin ke Arah Pembangunan Bangsa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Reset Indonesia, Saatnya Pariwasata Bangkit Lebih Kuat

Buku itu juga merupakan hasil dari perjalanan panjang Ekspedisi Indonesia Baru, sebuah ikhtiar merekam suara-suara masyarakat pinggiran yang selama ini jarang mendapat tempat dalam perumusan kebijakan publik. 

Ekspedisi tersebut tidak bergerak untuk sensasi, tetapi untuk mendengar dengan saksama kegelisahan warga yang hidup jauh dari pusat kuasa, tetapi paling merasakan dampak keputusan negara.

Dari perjalanan itu, muncul pola yang berulang di banyak daerah.

Persoalan-persoalan yang tampak lokal ternyata bersumber pada masalah yang sama: kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat kecil.

Ketimpangan penguasaan lahan, eksploitasi sumber daya alam yang masif, serta lemahnya perlindungan terhadap masyarakat kecil menjadi benang merah lintas wilayah.

Reforma agraria –yang selama bertahun-tahun dijanjikan sebagai koreksi atas ketidakadilan historis –belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

Penguasaan tanah masih terkonsentrasi di tangan korporasi besar, sedangkan masyarakat kian sulit mengakses lahan, baik untuk bertani maupun sekadar memiliki ruang hidup yang layak.

Itulah wajah Indonesia yang dipantulkan buku tersebut. Bukan untuk dipermalukan, melainkan untuk disadari.

Sebab, bangsa yang sehat bukan bangsa yang menolak becermin, melainkan bangsa yang berani mengakui wajahnya yang bopeng di sana sini, lalu sungguh-sungguh berbenah.

Nada kritik dalam buku tersebut memang tajam, tetapi tidak membabi buta. Yang digugat bukan sosok, melainkan arah. Bukan individu, melainkan struktur.

Narasi besar pembangunan –pertumbuhan ekonomi, infrastruktur masif, dan visi masa depan yang gemerlap– diletakkan di bawah pertanyaan mendasar: siapa yang diuntungkan dan siapa yang menanggung ongkosnya?

Istilah seperti Indonesia Emas 2045 tidak ditolak, tetapi ditelanjangi. Emas macam apa yang hendak diraih jika tanah dirampas, hutan dibabat, dan suara warga dipinggirkan? Emas bagi siapa dan dibangun di atas puing siapa?

Itu bukan bahasa permusuhan. Itu bahasa kejujuran yang terlalu lama dihindari.

Bahwa buku itu sempat dipersoalkan justru memperlihatkan kegentingan yang hendak disampaikannya. Ketika ruang berpikir menyempit dan diskusi dianggap ancaman, sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan kepercayaan diri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: