Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku

Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku

ILUSTRASI Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Senin malam, 29 Desember 2025, ibunda Mugni panik karena banyak polisi yang mendatangi rumahnya, mencari Mugni. Akhirnya ibunda menelepon Mugni, memintanya segera pulang.

Saat pelaku tiba di rumah, polisi memeriksanya. Dalam wawancara awal, pelaku mengakui membunuh Aziz. Polisi kemudian menggelandangnya ke Polsek Tigaraksa untuk diperiksa lanjut dan ditahan.

Mugni dijerat Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman maksimal hukuman mati. Ia pembunuh sekaligus korban judol.

Judol luar biasa marak. Berdasar data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pertengahan 2025, nilai perputaran uang judol Rp1.100 triliun dalam setahun itu. Angka tersebut naik tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak judol sangat beragam. Ujung-ujungnya kriminal.

Dikutip dari American Psychological Association, 1 Juli 2023, berjudul How gambling affects the brain and who is most vulnerable to addiction, karya Emily Sohn, disebutkan, judol meresahkan masyarakat Amerika Serikat (AS).

Disebutkan, dulu judi cuma ada di kasino-kasino yang terkonsentrasi di Las Vegas dan Atlantic City. Pejudi yang masuk gedung kasino harus deposit sejumlah tertentu, yang hanya bisa dilakukan orang berduit.

Kini judol bisa dilakukan siapa saja, di mana saja. Anak-anak pun bisa berjudol di rumah mereka. Itu meresahkan masyarakat sana.

Marc Potenza, direktur Pusat Keunggulan Penelitian Perjudian di Yale University, AS, mengatakan, dampak negatif judol perlu diteliti. Sebaiknya masyarakat tidak khawatir berlebihan sebelum ada hasil riset terkait itu.

Potenza: ”Kami tidak ingin terlalu sensasional. Tetapi, kami ingin proaktif dalam memahami dan mengatasi kemungkinan konsekuensi dari perluasan perjudian online yang dilegalkan AS.” 

Salah satunya loot box. Berupa virtual dalam video game yang dapat dibeli dengan uang. Ketika pemain membuka kotak (box), mereka menerima pilihan acak dari item virtual, seperti kosmetik, senjata baru, atau peningkatan karakter. Intinya, pemain membayar untuk kesempatan memenangkan item tertentu. Perjudian. 

Dalam riset terhadap 1.102 orang dewasa di Inggris Raya, sekitar 20 persen pejudi mengatakan bahwa loot box adalah pengenalan pertama mereka terhadap perjudian. Pengalaman itu membuat mereka berpikir bahwa bentuk perjudian online lain mungkin bisa menyenangkan.

Lebih dari 80 persen dari mereka mulai membeli loot box sebelum berusia 18 tahun. Akhirnya mereka kecanduan loot box.

Menurut Potenza, penelitian otak mungkin membantu menjelaskan mengapa remaja sangat rentan terhadap perjudian. Sebab, korteks prefrontal, yang mengatur impulsivitas dan pengambilan keputusan, berkembang sangat lambat, terutama pada anak laki-laki. Sebab itu, remaja laki-laki cenderung suka judol.

Para ahli mengatakan, strategi pengobatan baru terhadap pecandu judi sangat dibutuhkan. Sebab, kecanduan judi merupakan kecanduan yang sangat sulit diobati. Sebab, mudah disembunyikan oleh pejudi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: