Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku
ILUSTRASI Pecandu Judol Bunuh Remaja di Tangerang: Problem Psikologis Pelaku.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Sekitar 90 persen atau lebih orang dengan masalah judi tidak pernah mencari bantuan psikologis. Mereka merasa tidak ada yang salah.
Lia Nower, direktur Pusat Studi Perjudian di Rutgers University, New Jersey, AS, membagi pejudi jadi tiga golongan.
Pertama, pejudi yang berjudi untuk mengejar kemenangan. Ketika kalah, bisa menimbulkan masalah.
Kedua, orang yang punya riwayat trauma, pelecehan, atau pengabaian di masa kecil. Dengan begitu, judi menawarkan pelarian dari stres, depresi, dan kecemasan mereka.
Ketiga, orang yang memiliki kepribadian antisosial atau impulsif. Ia biasa berperilaku mengambil risiko.
Kasus Tangerang cocok untuk golongan nomor tiga. Pelaku sudah bermasalah (kepribadian antisosial atau impulsif). Ditambah kecanduan judol.
Indikator impulsif, orang yang sulit menahan emosi. Mencari kesenangan sesaat. Sulit fokus: gagal menyelesaikan tugas karena mudah teralihkan atau bosan. Bertindak tanpa perhitungan jangka panjang.
Orang impulsif yang kecanduan judol, berarti dobel masalah. Akhirnya membunuh. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: