Studi Ungkap Tanaman Bukan Tameng Utama dari Ancaman Pemanasan Global

Studi Ungkap Tanaman Bukan Tameng Utama dari Ancaman Pemanasan Global

Riset internasional mengungkapkan bahwa tanaman tidak bisa menjadi tameng utama untuk menekan laju pemanasan global.--industries jpb

Model tersebut menjadi rujukan laporan besar seperti World Climate Report. Hasil pembaruan itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Penelitian tersebut dipimpin Sian Kou-Giesbrecht dari Simon Fraser University, Kanada, bersama kelompok riset internasional.

Mereka berfokus pada fiksasi nitrogen biologis dan didukung oleh U.S. Geological Survey John Wesley Powell Centre for Analysis and Synthesis.

BACA JUGA:Menag di Pembukaan MQK Internasional: Korban Perubahan Iklim Lebih Besar Daripada Perang

BACA JUGA:HMKGN ke-78: BMKG Dorong Aksi Dini Hadapi Risiko Bencana dan Perubahan Iklim

“Kami menemukan bahwa banyak model sistem bumi melebihkan tingkat fiksasi nitrogen di permukaan alami hingga sekitar 50 persen,” jelas Weber. Kesalahan itu berdampak langsung pada proyeksi penyerapan karbon oleh tanaman.

Menurut hasil studi tersebut, kelebihan estimasi itu menyebabkan penurunan sekitar 11 persen pada proyeksi efek pemupukan CO2 secara keseluruhan.


Ilustrasi pemanasan Global-Indonesia Environment & Energy Center-

Artinya, kemampuan alam untuk menahan laju pemanasan global melalui pertumbuhan tanaman tidak sekuat yang selama ini diasumsikan.

Weber menegaskan pentingnya pembaruan model iklim agar lebih akurat. Hal itu berkaitan dengan produksi gas lain dalam siklus nitrogen. Seperti nitrogen oksida dan dinitrogen oksida, yang dapat dilepaskan ke atmosfer dan memengaruhi proses iklim.

BACA JUGA:6 Tantangan Lingkungan Hidup terhadap Perubahan Iklim Global

BACA JUGA:Kemendikbud Masukkan Pendidikan Perubahan Iklim ke Dalam Kurikulum

Ia menambahkan bahwa pemahaman yang tepat tentang dinamika nitrogen menjadi kunci. Itu dapat memprediksi respons ekosistem dan iklim di masa depan secara lebih realistis.

Temuan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa mengandalkan solusi alami tanpa perhitungan ilmiah yang presisi berisiko menciptakan optimisme palsu.

Tanaman memang berperan penting. Tetapi kemampuannya dibatasi oleh keseimbangan nutrisi yang kompleks di alam. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: