Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe

Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe

ILUSTRASI Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA 29 Januari 2026, di ruang rapat lantai 3 Gedung B.J. Habibie, Jakarta, suasana diskusi terasa lebih ”dingin” daripada biasanya. Bukan karena embusan AC yang terlalu kencang, melainkan karena saya membawa sebuah cermin besar ke hadapan para peneliti BRIN dan pengambil kebijakan lingkungan. Cermin itu bernama antropologi ekologi.

Saya ingin mereka melihat sebuah realitas pahit yang sering kali tersembunyi di balik tumpukan data statistik: bahwa rentetan banjir bandang dan longsor yang menghajar Aceh hingga Sumatera Barat di akhir 2025 ini bukanlah sekadar ”takdir” atau kemarahan alam semesta. Ini adalah bencana antropogenik. 

Sebuah kiamat kecil yang sistemik, yang dipicu oleh tangan manusia sendiri melalui kebijakan yang keliru dan pengabaian terhadap napas kehidupan masyarakat lokal.

BACA JUGA:Hujan Tidak Bersalah, Hutanlah Yang Kehilangan Tanah

BACA JUGA:Hutan Indonesia, Saatnya Patungan Cinta Rakyat Merebutnya (Kembali)

Dalam kajian antropologi ekologi yang saya tekuni selama belasan tahun, terdapat istilah metaforis yang saya temukan di lapangan untuk memotret kondisi tragis hutan kita, khususnya di tanah Jawa: Sedhakep Angawe-awe. Judul buku yang terbit Januari 2026.

Secara harfiah, istilah itu menggambarkan seseorang yang bersedekap tangan –sebuah tanda menutup diri, pasif, atau bahkan angkuh– tetapi jari-jarinya seolah melambai-lambai memanggil. 

Itulah wajah tata kelola hutan kita sampai hari ini. Di atas kertas dan di depan mimbar internasional, kebijakan seperti perhutanan sosial seolah melambai ramah, menjanjikan kesejahteraan dan mengajak rakyat ikut mengelola. 

Namun, dalam praktiknya di lapangan, tangan birokrasi masih bersedekap kaku. Negara masih memegang kontrol penuh dengan paradigma teknokratis yang bersifat top-down.

BACA JUGA:Hujan Tidak Bersalah, Hutanlah Yang Kehilangan Tanah

BACA JUGA:Heboh Pembacokan Sekeluarga Mantan Istri di Pacitan: Pelaku Kabur Masuk Hutan

HEGEMONI PENGETAHUAN DAN ALIENASI RAKYAT

Masyarakat lokal, yang secara genetik dan kultural selama berabad-abad telah menjadi penjaga alami hutan, kini hanya ditempatkan sebagai penonton di tanah kelahiran mereka sendiri. 

Mereka dipisahkan dari ekosistemnya oleh patok-patok batas yang kaku, aturan administratif yang membelit, dan izin-izin industri ekstraktif yang masif. Ketika negara memutus relasi sosial-ekologis itu, krisis telah terjadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: