Cisuak Jelang Imlek di Kelenteng Boen Bio, Panjatkan Harapan Sepanjang Tahun
Rohaniwan Konghucu Xs. Liem Tiong Yang dibantu Olivia Yunita mempersiapkan prosesi ibadah cisuak di Kelenteng Boen Bio Surabaya, 10 Februari 2026.-Boy Slamet-Harian Disway
Tahap selanjutnya, memotong kuku jari kaki dan tangan, rambut, serta mengambil benang dengan warna tertentu.
Potongan-potongan itu diletakkan di kertas thi kong kim lain yang berbentuk kura-kura. "Di bagian tengah kertas kura-kura ada celah. Sebagai ruang untuk memasukkan kuku kaki dan tangan, rambut, serta benang itu," ujar Olivia Yunita (Olive), salah seorang peserta cisuak.

Pemimpin ibadah cisuak Xs. Liem Tiong Yang membakar kertas thi kong kim dalam ibadah cisuak di Kelenteng Boen Bio Surabaya, 10 Februari 2025.-Boy Slamet-Harian Disway
Potongan benang yang dimasukkan berukuran sejengkal. Warnanya menyesuaikan shio. Olive, misalnya, dia bershio kelinci.
BACA JUGA:Upacara Li Yuan, Parakhin Kukuhkan 10 Rohaniwan Konghucu di Hari Genta Rohani
BACA JUGA:Fungsi dan Makna Jumlah Dupa untuk Sembahyang Menurut Konghucu
Unsur shio tersebut adalah kayu. Diwakili oleh warna hijau. Maka, Olive memasukkan benang warna itu ke dalam kertas tersebut.
"Shio saya masuk kategori ciong tahun ini. Jadi, saya mengikuti cisuak untuk meminimalisir energi negatif yang muncul dari ketidakselarasan," ungkap perempuan 50 tahun itu. Setelah usai, tiap peserta umat membawa kertas thi kong kim itu ke depan altar.
Kemudian mereka melakukan penghormatan atau "minta izin". Setelah itu, berjalan ke sisi belakang. Lalu meletakkan kertas tersebut di sebuah nampan berukuran besar. Usai semua terkumpul, para umat duduk di kursi persembahyangan.
Xs. Liem memimpin peribadatan. Lonceng dibunyikan. Gemanya menyelimuti seluruh ruangan. Dupa dinyalakan lalu dibagikan. Masing-masing mendapat tiga batang. Angka tiga merupakan simbol keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.
BACA JUGA:Fengshui Shio Ayam 2026, Meski Ciong Harus Tetap Fokus!
BACA JUGA:Fengshui Shio Kelinci 2026, Ciong Kecil Harus Tahan Godaan
Setelah doa dan nyanyian puja-puji selesai dilantunkan, Xs. Liem berjalan ke halaman belakang kelenteng. Diikuti semua umat. Di situ telah disiapkan sebuah wadah. Berisi air dengan berbagai bunga.
Setiap orang berbaris rapi. Xs. Liem mengambil air dari wadah itu menggunakan ember. Lalu menuangkannya ke telapak setiap umat yang ditelungkupkan.
Satu per satu membasuh wajah, tangan, dan kaki. Upacara itu sebagai simbol penyucian diri. Membuang segala kotoran yang menempel. Menyirnakan energi negatif dalam tubuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway