Hilangnya Batoto dari Jagat Maya: (I)legalitas Komik di Era Digital

Hilangnya Batoto dari Jagat Maya: (I)legalitas Komik di Era Digital

ILUSTRASI Hilangnya Batoto dari Jagat Maya: (I)legalitas Komik di Era Digital-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Namun, bagi kaum mendang-mending, sistem seperti itu cukup menyulitkan dan dianggap sebagai pemborosan. Oleh karena itu, sebagian besar pembaca terkadang menggunakan jalan pintas lain demi mengakses bacaan favorit mereka –membaca melalui situs komik ilegal– karena dinilai lebih menguntungkan. Dengan begitu, pembaca dapat membaca komik secara bebas tanpa harus membayar secara penuh.

Persoalan lain terkait pembajakan komik adalah pembajakan dianggap sebagai ”langkah awal” bagi para penggemar komik untuk menikmati komik secara legal. Sebagai contoh, suatu komunitas scanlations menerjemahkan dan mengunggah sebuah komik baru ke situs komik ilegal. 

Berkat hal itu, pembaca dapat mengenal dan mengakses komik baru tersebut dengan mudah. Apabila komik itu memperoleh publisitas yang lebih luas, besar kemungkinan penerbit asing akan membeli lisensi atas komik tersebut sehingga jumlah pembaca baru dari komik itu akan makin meningkat. 

Terlebih, makin populer sebuah komik, peluang bagi komik tersebut untuk dilisensi dalam bentuk lain –seperti adaptasi menjadi film animasi atau penjualan cendera mata resmi– makin terbuka lebar.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa aktivitas pembajakan secara digital menjadi sebuah praktik yang normal di kalangan masyarakat. Banyak pembaca komik yang menormalisasi tindakan itu untuk mengurangi rasa bersalah. 

Misalnya, dengan alasan harga yang dipatok oleh situs resmi terlalu mahal, distribusi resmi yang memakan banyak waktu, atau adanya anggapan bahwa komikus dari komik yang sudah populer ”tidak akan rugi” apabila karyanya dibajak. 

Meskipun begitu, praktik tersebut justru dinilai menimbulkan rasa ketidakadilan bagi komikus yang kehilangan hak atas karya mereka. 

Fenomena itu kemudian memunculkan dua pertanyaan. Pertama, apakah komik nantinya menjadi media hiburan eksklusif yang hanya dapat diakses kalangan tertentu? Kedua, meskipun komunitas scanlations dianggap sebagai agen yang berperan dalam tingkat publisitas suatu komik, apakah praktik yang dilakukan oleh komunitas tersebut merupakan hal yang tabu?

Pada akhirnya, persoalan legalitas atau ilegalitas komik digital tidak dapat dinilai dari satu perspektif saja. Pembajakan komik digital tidak hanya menjadi masalah pelanggaran hukum, tetapi juga memberikan pengaruh yang signifikan dari segi ekonomi dan sosial. 

Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan terkait aksesibilitas dan lisensi komik legal perlu diminimalkan sebaik mungkin. Apabila permasalahan tersebut dapat ditekan, peluang bagi komunitas scanlations untuk melakukan pembajakan dapat makin diperkecil. 

Dengan demikian, tidak akan ada lagi Batoto-Batoto lainnya yang mengancam industri komik. (*)

*) Nabila Vina Fairuzzahra, dosen Departemen Bahasa dan Sastra Jepang, Unair

*) Intan Khodijatul Kubro, asisten dosen Departemen Bahasa dan Sastra Jepang, Unair.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: