Melihat Koleksi Uang Kuno Numismatik Ali Budiono: Seri Wayang Paling Mahal, Seri Bunga Paling Canggih

Melihat Koleksi Uang Kuno Numismatik Ali Budiono: Seri Wayang Paling Mahal, Seri Bunga Paling Canggih

ALI BUDIONO memamerkan salah satu koleksi uang kertas di rumahnya pada Minggu, 8 Februari 2026.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

Uang yang saat ini menjadi nilai tukar transaksi jual beli masyarakat, punya sejarah panjang yang rumit. Koleksi uang kuno Ali Budiono menceritakan itu semua. 

SEHARUSNYA, ruangan itu adalah tempat berkumpulnya keluarga. Namun, keluarga Ali harus mengalah demi benda-benda antik yang menjadi koleksi sang kepala rumah tangga. Ruang keluarga, dan bahkan ruang tamu di rumah itu, beralih fungsi. 

“Ini sekarang jadi gudang. Ruang koleksi,” katanya kepada Harian Disway yang berkunjung ke Jalan Petemon Timur nomor 63 Surabaya itu pada Minggu, 8 Februari 2026. Hari itu, Ali memamerkan koleksi uang kunonya. Ia mengatakan bahwa koleksinya itu adalah saksi sejarah perjalanan uang di Indonesia. 

Bagi numismatik (kolektor uang kuno) seperti Ali, setiap keping koin dan lembaran kertas adalah artefak sejarah yang merekam jatuh bangunnya kedaulatan sebuah bangsa. Mata uang bukan sekadar alat tukar yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. 

BACA JUGA:Surabaya Vintage Festival Pamerkan Koin Perak Kuno yang Bisa jadi Investasi Jangka Panjang

BACA JUGA:Hadir Lagi, Soerabaia Vintage Festival Bawa Nostalgia Lewat Kepingan Uang Kuno, Prangko, dan Barang Antik


UANG KOIN era Hindia Belanda tampak depan. Meski sudah tidak utuh, koin ini berharga karena sejarahnya.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

Pendiri Surabaya Vintage Comunity itu mengatakan bahwa sejarah uang sudah dimulai sejak sebelum Republik Indonesia (RI) lahir. “Sudah dari era kerajaan,” kata Ali. Uang sebagai nilai tukar hadir melintasi era kerajaan, masa kelam kolonialisme, sampai perjuangan mempertahankan kemerdekaan.  

Salah satu koleksi yang paling ikonik dan punya nilai estetika tinggi adalah Seri Wayang yang diterbitkan oleh Belanda. Dalam seri tersebut, desain uangnya sengaja menggunakan motif kebudayaan lokal untuk menarik simpati rakyat Indonesia.

“Seri Wayang terbit pada 1933-1936,” ujar Ali. Seri tersebut mencakup delapan pecahan. Yaitu 5, 10, 25, 50, 100, 200, 500 dan 1.000 gulden. Kini, gulden sudah tidak lagi digunakan sebagai currency di Belanda, digantikan euro. 

Pada bagian belakang koin ada kalimat dalam empat bahasa dengan aksara berbeda. Yakni, Latin, Arab, Tiongkok, dan Belanda.

BACA JUGA:Serba-Vintage di Ulang Tahun Ketiga Harian Disway

BACA JUGA:Berkonsep Co-Working Vintage Minimalis, About Coffee Bikin Siapa pun Betah ’Ngantor’

Menurut Ali, Seri Wayang itu adalah koleksi yang paling diminati kolektor numismatik luar negeri. Sebab, selain bagus, desainnya juga unik. Terutama, untuk koin dengan nominal langka seperti 1.000 gulden. Valuasi satu set lengkap Seri Wayang bisa mencapai Rp2 miliar. 

Ali kemudian menceritakan tentang Japan Serejering atau uang militer yang berlaku pada masa penjajahan Jepang. Uang itu juga beredar di wilayah ASEAN lainnya seperti Myanmar dan Filipina. Seperti halnya Belanda, Jepang menggunakan strategi visual dengan menampilkan gambar rumah gadang, barong Bali, dan Gatotkaca untuk memikat hati rakyat Indonesia.


SERI WAYANG pecahan 50 gulden yang berlaku pada era sebelum merdeka.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

Era uang Belanda dan Jepang usai saat terbitnya uang kertas baru pada Oktober 1946. Itulah ORI alias Oeang Republik Indonesia. Namun, perjalanan ORI tidak mudah. Belanda sering mengebom tempat percetakan uang. Hal itu memaksa lokasi produksi berpindah-pindah dari Jakarta, Jogja, hingga Malang.  

“Pada masa itu, terjadi perang mata uang,” kata Ali. Di wilayah yang dikuasai pejuang, ORI berlaku sah. Namun di kota-kota yang diduduki Belanda seperti Surabaya, rakyat dipaksa menggunakan uang NICA. 

BACA JUGA:Museum Digital Unair Hadir sebagai Inovasi Edukasi Sejarah Interaktif, Manfaatkan AI dan Sensor

BACA JUGA:Pameran Imersif Cross Musea Bajawara di Museum 10 Nopember Bikin Belajar Sejarah Makin Seru

Hal ini melahirkan fenomena “money changer gelap” di perbatasan kota seperti Waru dan Wiyung. Di sana, pedagang mempertaruhkan nyawa untuk menukar uang. Membawa ORI ke wilayah Belanda bisa dianggap sebagai tindakan mata-mata yang berujung hukuman mati. 

Setelah kedaulatan penuh diraih, Bank Indonesia mulai mencetak seri sendiri, diawali dengan Seri Budaya tahun 1952. Uang kertas pertama yang bertulisan Bánk Indonesia adalah emisi Tokoh dan Ragam Hias 1952. Terdiri dari nominal Rp5, Rp10, Rp25, Rp50, Rp100, Rp500, dan Rp1.000.

Desain uang kertas Indonesia pernah diakui sebagai yang terbaik di dunia. Tepatnya, saat Seri Bunga beredar pada 1959. Itu juga uang pertama di dunia yang menerapkan teknologi ultraviolet. 

Ali bisa bercerita banyak tentang uang kuno dan sejarah peredarannya berkat Perkumpulan dan Edukasi Uang Kuno Indonesia. “Itu cikal bakalnya Masyarakat Numismatik Surabaya atau MNS,” ungkapnya.


PIGURA menjadi salah satu sarana yang Ali Budiono gunakan untuk menyimpan koleksi uang kertasnya.-Calista Salsabila Azhari-Harian Disway

BACA JUGA:De Javasche Bank Raih Juara 1 Kategori Education and History Tourism dalam Surabaya Tourism Awards 2025

BACA JUGA:Kapasan Dalam dan De Javasche Bank Berebut Hati Wisatawan di Surabaya Tourism Award 2025

Dulu, mereka berkumpul tiap Minggu di Kantor Pos Kebonrojo. Namun, rutinitas itu terhenti sejak Covid-19. Sama seperti komunitas numismatik di Jakarta, Semarang, dan Jogja, kelompok numismatik selalu beriringan dengan kolektor prangko alias filatelis. Maka, kantor pos menjadi “markas” mereka.

“Hobi saya mengoleksi uang kuno berawal dari menemukan tumpukan uang kuno di lemari papa saya. Uang Seri Pekerja tahun 1964,” kata Ali. Minat itu terus berkembang seiring berjalannya waktu. 

Saat SMP, Ali bahkan sengaja menyisihkan uang saku agar bisa membeli uang kuno. “Om saya juga mengoleksi uang kuno. Cukup banyak. Saya banyak belajar dari beliau,” terangnya. 

Kini, Ali dan komunitasnya rutin menggelar pameran untuk membuat masyarakat lebih mengenal uang kuno dan sejarahnya. Secara berkala, ia membersihkan dan menata koleksi uang kunonya agar tetap awet dan siap dipamerkan kapan saja. (*)

BACA JUGA:Komunitas Tunpu, Penjaga Tradisi Migrasi Kuno di Guizhou, Bertahan Lebih dari Enam Abad

BACA JUGA:Emas, Perunggu, dan Misteri Kuno Sanxingdui, Jejak Peradaban Besar dari Tanah Shu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: