Paradoks Subianto

Paradoks Subianto

ILUSTRASI Paradoks Subianto.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PRESIDEN Prabowo Subianto berada pada episentrum kontroversi nasional dan internasional dalam beberapa waktu terakhir ini. Setelah kontroversi BoP (Board of Peace), muncul serangan dari BEM UGM yang menyebut rezim Prabowo sebagai rezim bodoh. 

Sekarang Prabowo berada di pusaran gelombang ART (Agreement Reciprocal Trade), perjanjian dagang Indonesia-Amerika Serikat, yang dianggap merugikan Indonesia.

Mungkin belum pernah ada sebelumnya, sebuah perjanjian dagang menjadi perhatian dan kontroversi nasional seperti ART itu. 

Isu ekonomi politik yang paling populer selama sepuluh tahun pemerintahan Jokowi adalah hubungan dagang dengan pemerintah Tiongkok. Masuknya pekerja asing Tiongkok ke Indonesia dan mengalirkan ekspor Indonesia ke Tiongkok yang tidak menguntungkan menjadi materi serangan gencar terhadap Jokowi selama sepuluh tahun terakhir. 

BACA JUGA:Lain Bung Karno, Lain Prabowo Subianto: Sikap Indonesia soal Sanksi IOC

BACA JUGA:Jejak Soemitro Djojohadikoesoemo, Langkah Prabowo Subianto

Jokowi dituding sebagai antek asing dan antek aseng, sebutan untuk antek Tiongkok.

Banyak ekonom yang menyoroti ketimpangan perdagangan Indonesia-Tiongkok. Faisal Basri (almarhum) paling getol mengungkap kerugian ratusan triliun rupiah akibat ekspor nikel Indonesia ke Tiongkok yang salah urus. 

Program hilirisasi yang menjadi kebanggaan Jokowi, oleh Faisal, dianggap palsu karena ternyata keuntungannya lebih banyak dinikmati oleh perusahaan Tiongkok.

Tetapi, belum pernah ada perjanjian dagang antara Indonesia dan Tiongkok di masa kekuasaan Jokowi yang menjadi sorotan detail sebagaimana perjanjian ART.

BACA JUGA:Tanah Capres Prabowo Subianto, Pintar atau Goblok?

BACA JUGA:Momentum Presiden Prabowo Subianto

Begitu perjanjian itu ditandatangani, media sosial dibanjiri dengan analisis mengenai detail perjanjian tersebut. Salah satu yang paling detail dan menjadi viral dilakukan oleh Idja Latuconsina, akademisi yang berbasis di Utrech, Belanda. 

Idja mengeklaim membaca detail isi perjanjian itu, pasal demi pasal. Bahkan, kata demi kata. Bahkan, dia juga baca semua catatan kaki alias apendiks yang panjang dan jelimet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: