Anomali Kedermawanan Masyarakat Indonesia
ILUSTRASI Anomali Kedermawanan Masyarakat Indonesia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SELAMA tujuh tahun berturut dari 2017–2024 Indonesia berada di posisi pertama sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan riset dari World Giving Report (nama baru dari World Giving Index) yang diterbitkan Charities Aid Foundation. Tahun 2025 peringkat Indonesia turun menjadi #21, dan yang menjadi peringkat #1 terbaru adalah Nigeria.
Salah satu faktor turunnya peringkat Indonesia adalah faktor penghitung peringkat kedermawanan tidak lagi hanya jumlah donasi yang dikeluarkan, tetapi juga dibandingkan dengan rata-rata pendapatan per kapita warga negara tersebut.
Dengan begitu, negara-negara Afrika tentu ”diuntungkan” dengen formulasi tersebut, terbukti tiga besar hasil report tersebut diisi negara Afrika. Setelah Nigeria di posisi teratas, ada Ghana dan Mesir.
BACA JUGA:Surabaya Kota Para Dermawan
BACA JUGA:Bulan Dana PMI Kabupaten Pasuruan, Ajang Melatih Kedermawanan Sejak Dini
Meski demikian, Indonesia meraih posisi tertinggi untuk kategori Helped Friends and Family, dengan hasil bahwa rata-rata sembilan dari sepuluh orang (90 persen) membantu teman atau keluarga mereka setidaknya sekali dalam setahun.
Itu menujukkan masyarakat Indonesia memiliki tingkat kepedulian kepada sesama yang sangat tinggi.
Contoh nyata, jika kita aktif media sosial Tiktok beberapa tahun ini, setiap ada postingan sesorang yang sedang membutuhkan, kena musibah, atau sejenisnya, dengan cepat netizen (sebutan pengguna internet) dengan sigap minta ajakan donasi untuk membantu orang yang sedang membutuhkan tersebut.
Budaya saling membantu itu tampak sepertinya menjadi sebuah budaya turun-temurun yang terbukti masih eksis hingga sekarang.
Berdasar data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025, angka kemiskinan Indonesia sebesar 8,25 persen. Artinya, ada 23,36 juta jiwa penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.
Persentase tersebut didapat jika menggunakan standar hidup BPS dengan garis kemiskinan Rp641.443/kapita/bulan atau Rp21.381/kapita/hari. Namun, jika menggunakan standar World Bank (Bank Dunia) dengan standar hidup USD6,85/kapita/hari, peringkat Indonesia menjadi termiskin kedua di dunia setelah Zimbabwe, dengan angka kemiskinan sebesar 60,3 persen.
Yang mana pun persentase yang kita pakai dan standar yang digunakan, kita sepaham bahwa kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi.
Yang menjadi pertanyaan besar saat ini, dengan prestasi Indonesia sebagai negara paling dermawan, mengapa tidak selaras dengan angka kemiskinan yang masih tinggi?
ANOMALI KEDERMAWANAN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: