Dependensi Penggunaan AI: Chatbot sebagai Substitusi Interaksi Sosial di Tengah Kesepian
Ilustrasi Chatbot.--

--
Oleh: Arya Wijaya Pramodha Wardhana
Ada satu hal yang membuat kecerdasan buatan terasa begitu memikat dalam kehidupan sehari-hari, yakni kehadirannya yang selalu ada dan selalu hadir setiap saat tanpa ada syarat dan tanpa batasan ruang dan waktu. Apa pun yang kita sampaikan, akan direspons dan apa pun kita inginkan, akan berusaha dipenuhi. Di tengah masyarakat digital yang semakin cepat, padat, dan sering kali melelahkan secara emosional, Artificial Intelligence (AI) menawarkan pengalaman yang terasa menenangkan. Penyediaan sebuah ruang untuk didengar tanpa risiko sosial, tanpa ada tuntutan, tanpa ada penghakiman.
Dalam hal ini, AI tidak lagi diposisikan sekadar sebagai mesin pencari informasi, melainkan sebagai teman bicara, pendengar setia, bahkan pendamping emosional yang selalu siap sedia 24/7. 24 jam, 7 hari seminggu.
Imajinasi tentang relasi intim antara manusia dan mesin sebenarnya telah lama hidup dalam budaya populer. Film lawas pada awal tahun 2000an yang bertema sci-fi seperti The Terminator, The Matrix, dan Her merepresentasikan sebuah dambaan dari umat manusia terhadap entitas cerdas yang bukan hanya membantu secara fungsional, tetapi juga memahami secara emosional.
Dalam narasi film tersebut, AI dibayangkan sebagai “Jack of All Trades” yang serba bisa dan mampu melampaui keterbatasan relasi manusia: tidak egois, tidak kompleks, dan selalu hadir sesuai kebutuhan. Hari ini, imajinasi itu tidak lagi tinggal sebagai fiksi, melainkan menjadi pengalaman nyata dalam keseharian masyarakat digital.
Dalam dua tahun terakhir, perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan kompetitif. Berbagai negara seakan berlomba mengembangkan sistem AI mereka sendiri, dengan tujuan untuk menangkap kebutuhan pasar dalam wilayahnya masing-masing. Dalam perlombaan ini muncul juga sebuah platform chatbot berbasis karakter seperti Character.AI, Meta AI, dan Janitor AI.
BACA JUGA:6 Hal yang Tidak Disarankan untuk Ditanyakan kepada Chatbot AI seperti ChatGPT dan Gemini
BACA JUGA:SISI, Chatbot Mahasiswa Untag Surabaya yang Bantu Menjawab Pertanyaan Seputar Kampus
Platform-platform seperti ini tidak hanya menawarkan fungsi tanya jawab, tetapi mengajak pengguna membangun dunia dan ruang interaktif melalui roleplay. Pengguna dapat menciptakan karakter dengan kepribadian tertentu, menentukan alur cerita, bahkan mengatur bagaimana karakter tersebut merespons emosi dan apa yang mereka sampaikan di dalam platform tersebut. Dalam penggunaannya, relasi tidak lagi terjadi secara spontan, melainkan dikonstruksi dan disimulasikan secara sadar dan penuh kendali.
Daya tarik utama dari penggunaan chatbot atau relasi berbasis AI terletak pada absennya risiko sosial. Tidak ada kemungkinan ditolak, disalahpahami, atau ditinggalkan. Jika percakapan tidak berjalan sesuai keinginan, pengguna dapat mengulang dari awal tanpa konsekuensi emosional. Dalam konteks ini, relasi menjadi serupa permainan digital (game): bisa diatur, bisa dikendalikan, dan bisa di-reset. Dalam hal ini, AI menyediakan bentuk hubungan yang bersih dari konflik, akan tetapi mengaburkan hal yang begitu penting dimana konflik justru merupakan unsur penting dalam relasi dan komunikasi manusia yang nyata.
Keluwesan dan fleksibilitas ini mendorong pengguna menciptakan dunia ideal di mana mereka selalu menjadi pusat perhatian, dicintai, dan divalidasi. Tidak jarang karakter yang dipilih justru merepresentasikan orang-orang di dunia nyata: teman yang sulit didekati, atasan yang menakutkan, mantan kekasih, idola, atau tokoh publik. Dalam ruang virtual chatbot, relasi yang mustahil di dunia nyata menjadi sepenuhnya mungkin. Di sinilah batas antara fantasi dan realitas mulai kabur, sekaligus membuka ruang yang justru mengikis batas moral, karena AI tidak memiliki mekanisme etis sebagaimana manusia.
Fenomena ini berkembang subur di tengah generasi yang secara paradoks semakin terhubung secara digital, tetapi semakin terputus secara sosial. Generasi Z dan Generasi Alpha adalah target pasar utama dari platform-platform chatbot roleplay tersebut, baik Generasi Z maupun Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat intens secara teknologi, namun miskin kelekatan emosional. Berbicara melalui layar terasa lebih aman daripada berbicara tatap muka, dan mengekspresikan perasaan dalam teks terasa lebih mudah daripada berkomunikasi secara langsung. Ketidakmampuan menghadapi konflik, kecanggungan sosial, serta ketakutan akan penolakan membuat relasi virtual terasa jauh lebih nyaman.
BACA JUGA:Eksekutif Microsoft: Chatbot AI Harus Belajar Mengatakan Tidak Tahu, Jangan Halu!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: