Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (1): Dana Abadi Beasiswa dari Pohon Cemara

Cara Ngadirejo Membayar Kuliah dengan Udara (1): Dana Abadi Beasiswa dari Pohon Cemara

Penyerahan souvener dari Kepala Divisi Regional Jawa Timur (Wawan Triwibowo, S.Hut., M.Hut., baju warna putih tengah) kepada Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA. (Berpeci dan berjas Batik warna kuning kecoklatan) seusai Diskusi Penyiapan Beasiswa kepada -Dokumen Pribadi-


--

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs, MA.

Ada satu kalimat dari Bapak Wawan (Triwibowo, S.Hut., M.Hut.) -Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur—yang terus terngiang di kepala saya setelah pertemuan di ruang kerjana Jl. Genteng Kali Surabaya Senin, 2 Maret 2026di ruang kerjanya. Pagi itu, beliau bilang, “di pertanian, salah melangkah mungkin rugi satu musim. Tapi di hutan, salah melangkah, ruginya satu jangka (generasi)."

Sebuah peringatan yang telak. Hutan bukan sekadar barisan batang kayu. Hutan adalah "tabungan" waktu. Di Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, lereng Bromo. Tabungan itu sedang kami coba konversi menjadi sesuatu yang lebih bernilai dari sekadar kayu bakar: ijazah sarjana.

Selama ini, kita sering mendengar istilah “carbon credit” atau kredit karbon di panggung-panggung pidato elit. Kedengarannya canggih, futuristik, dan sangat "Barat". Padahal, di Ngadirejo, rahasianya ada pada akar-akar tua yang menjaga 62 titik mata air. Kami menyebutnya Etnosains—pengetahuan lokal yang lahir dari sejarah panjang Babat Tengger.

Ceritanya bermula dari kegelisahan. Bagaimana caranya agar 10.000 pohon Cemara Gunung yang kami tanam di Petak 22 RPH Sugro, 6 Maret 2026 tidak berakhir jadi arang? Jawabannya bukan sekadar pagar kawat, tapi "pagar akhlak" dan kepastian ekonomi.

BACA JUGA:Mengenal Ragam Sesaji dalam Tradisi Masyarakat Hindu Tengger

BACA JUGA:Pulang ke Kampung Tradisi Edisi 5, Penyair Perempuan Indonesia Telusuri Jejak Budaya Tengger di Malang Raya

Di sinilah Laboratorium Antropologi Universitas Airlangga masuk. Kami membawa SOP (Standar Operasional Prosedur). Bukan untuk membirokrasi alam, tapi untuk melakukan tagging, menghitung biomasa, dan mendigitalisasi setiap jengkal oksigen yang dihasilkan pohon-pohon itu. Targetnya jelas: mengubah "asap karbon" yang dibuang industri menjadi pundi-pundi rupiah yang sah melalui mekanisme perdagangan karbon.

Namun, kami tidak ingin uang itu menguap begitu saja. Kami ingin ada hilirisasi yang menyentuh tulang sumsum peradaban. Maka lahirnya ide itu: Dana Abadi Beasiswa.

Bayangkan ini: Seorang pemuda asli Dusun Kletak atau Cemorogading bisa kuliah sampai lulus perguruan tinggi, bukan karena orang tuanya menjual tanah, tapi karena pohon-pohon di belakang rumahnya menghirup polusi dunia dan menukarnya dengan dollar. Pohon-pohon itu membayar biaya kuliah mereka. Inilah yang kami diskusikan dengan Perum Perhutani. Sebuah sinergi Tripartit antara kampus, Perhutani, dan desa.

Pak Wawan setuju bahwa Perhutani tidak bisa lagi hanya mengandalkan Pure Business. Pertumbuhan penduduk yang melesat—menembus 285 juta jiwa—membuat tekanan terhadap hutan luar biasa besar. Jika rakyat di sekitar hutan tetap miskin, hutan akan selalu terancam. Solusinya? Rakyat harus merasa memiliki hutan karena hutan memberi mereka masa depan melalui pendidikan.

BACA JUGA:Eksotika Bromo 2025 Resmi Dibuka, Olivia Zalianty Bacakan Puisi Kidung Tengger

BACA JUGA:Upacara Suci Yadnya Kasada, Masyarakat Tengger 4 Kawasan Berkumpul di Pura Luhur Poten, Gunung Bromo

Dudi dan Duda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: