AI Pencabut Nyawa
ILUSTRASI AI Pencabut Nyawa.-Arya/AI-Harian Disway-
MALAM ITU langit Denpasar memerah. Gamelan baleganjur bertalu kencang. Menggetarkan dada. Saya berdiri di pinggir Lapangan Puputan. Ditemani istri saya. Kami menonton raksasa ogoh-ogoh diarak keliling lapangan. Taringnya panjang. Wajahnya menyeramkan. Matanya merah melotot. Simbol angkara murka yang harus disoraki dan akhirnya dibakar habis sebelum Pulau Bali masuk ke dalam keheningan total bernama Nyepi.
Di tengah keramaian itu, pikiran saya justru melayang ke monster jenis lain.
Monster yang tidak terbuat dari rangka bambu dan kertas semen. Melainkan, monster yang dirajut dari silikon, fiber optik, dan baris-baris kode algoritma.
BACA JUGA:Dependensi Penggunaan AI: Chatbot sebagai Substitusi Interaksi Sosial di Tengah Kesepian
BACA JUGA:AI, Teman Baru di Sudut Kehidupan Kita
Itulah monster yang membuat saya sering pusing memikirkan disertasi doktoral saya di ilmu hukum di Universitas Udayana. Judulnya terdengar sangat akademis, yaitu Hakikat Pengaturan Robot dan Kecerdasan Buatan di Indonesia.
Sebuah kegelisahan yang memburu. Bagaimana jadinya kalau mesin mulai mengambil alih keputusan hidup dan mati manusia? Hukum positif kita yang diwarisi dari zaman Romawi hanya didesain untuk menghukum manusia yang punya niat jahat.
Hukum kita sejak zaman Belanda hanya mengenal subjek hukum berwujud manusia atau badan hukum. Lahir batinnya jelas. Lalu, bagaimana cara polisi dan hakim membuktikan niat jahat dari sebuah algoritma yang bertindak otonom?
Apakah kita harus menghukum ahli kodenya yang sedang asyik minum kopi di Silicon Valley? Atau, kita harus menyita komputer servernya, lalu meletakkannya di balik jeruji besi? Konyol sekali.
BACA JUGA:Menyongsong Agentic AI: Peluang dan Tanggung Jawab di Era Baru Kecerdasan Buatan
BACA JUGA:Bahasa Ibu di Era Kecerdasan Buatan
Nyepi pun tiba. Bali hening selama 24 jam. Jalanan kosong. Internet dimatikan.
Begitu Nyepi usai, sinyal ponsel kembali masuk. Layar menyala. Berita internasional membanjiri lini masa. Seketika dunia membuktikan bahwa ketakutan dalam disertasi saya itu bukan sekadar teori di atas kertas kampus.
Di Timur Tengah monster digital itu sedang bekerja. Fokusnya bukan sekadar mengalahkan musuh. Mesin itu sedang menghapus pimpinan negara berdaulat dari muka bumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: