Menurunkan Dampak Invasif Budi Daya Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Keramba Jaring Apung
ILUSTRASI Menurunkan Dampak Invasif Budi Daya Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Keramba Jaring Apung.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Bahaya invasif ikan nila yang dibudidayakan di keramba jaring apung dapat dihindari dengan beberapa hal berikut ini.
Pertama, mengembangkan sistem konstruksi keramba jaring apung antilepas. Jaring apung dibuat dengan menggunakan jaring ganda yang terdiri atas dua lapis jaring.
Lapis kedua (waring) dibuat lebih rapat jika dibandingkan dengan bagian dalam jaring utama (lapisan pertama) untuk mencegah ikan nila dan burayak terlepas ke perairan umum jika jaring utama robek.
Jaring di bagian bawah dilengkapi pemberat untuk memastikan jaring tetap tegang saat kondisi perairan dengan arus tinggi dan secara berkala untuk memastikan tidak ada kerusakan yang memungkinkan ikan melarikan diri.
Kedua, manajemen benih dalam budi daya. Membudidayakan ikan nila jantan-betina secara bersamaan dapat menyebabkan terjadinya pemijahan liar. Akibatnya, risiko kelolosan larva di alam menjadi lebih besar.
Budi daya ikan nila di keramba sebaiknya menggunakan benih ikan nila monoseks (all-male tilapia) atau ikan nila triploid yang steril untuk mencegah terjadinya pemijahan liar dan mencegah potensi ikan nila sebagai spesies invasif.
Ketiga, rekayasa nutrisi mengunakan nutraceutical yang dapat menghambat pertumbuhan gonad ikan nila.
Penggunaan bahan yang memiliki sifat anti-reproduksi seperti penggunaan 17α-methyltestosterone (MT) pada ikan dewasa merupakan teknik manipulasi hormonal untuk menghambat perkembangan gonad betina dengan menekan produksi hormon estradiol 17β yang memicu perkembangan gonad.
Praktik itu dapat berdampak negatif karena terjadi akumulasi 17α-methyltestosterone yang bersifat hepatotoksik.
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 52 Tahun 2014 telah memasukan 17α-methyltestosterone (MT) sebagai obat keras yang tidak boleh digunakan dalam budi daya.
Indonesia adalah penghasil kacang kara. Sebab, sejak 2025 dilakukan budi daya intensif di Aceh dan Bogor untuk menjadikan kacang kara sebagai pangan lokal alternatif penganti kedelai. Biji kacang kara memiliki kandungan L-Dopa yang tinggi sebesar 0,58-6,42% (Pulikkalpura et al., 2015).
L-Dopa merupakan asam amino nonprotein sebagai prekusor sintesis dopamin (Singh et al., 2018). L-Dopa yang ada di otak oleh enzyme amino acid dopadecarboxylase akan disintesis menjadi dopamin (Karaman, 2014).
Dopamin merupakan neurotransmitter yang mengatur produksi hormon di hipotalamus dan hipofisa (Zahri dan Tjoanda, 2021).
Dopamin dapat menghambat sintesis GNRH di hipotalamus yang berakibat pada penurunan produksi follicle-stimulating hormone (FSH) dan hormon luteinizing (LH), yaitu dua hormon yang terlibat dalam pembentukan telur dan pemijahan pada ikan nila.
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa suplementasi L-Dopa pada pakan ikan nila dapat meningkatkan kadar dopamin dan FSH pada ikan nila betina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: