8 Kondisi Mental Perempuan yang Membuatnya Kelelahan: Bukan Ringkih, Tapi Memang Letih

8 Kondisi Mental Perempuan yang Membuatnya Kelelahan: Bukan Ringkih, Tapi Memang Letih

MULTITASKING menjadi label sekaligus tuntutan bagi perempuan. Terutama, para perempuan pekerja yang sudah berkeluarga.-Getty Images-BBC

Kesejahteraan mental semua orang di dalam rumah adalah tanggung jawab si ibu (perempuan). Berkat dia, impian seluruh anggota keluarga bisa tercapai, kecuali impian si ibu.

6. Sehat dan Bugar

Terbiasa mengurusi banyak hal membuat perempuan bertekad untuk selalu sehat dan bugar, demi bisa menuntaskan semua tugas yang dilekatkan padanya. Maka, berolahraga atau merawat diri, tujuannya adalah agar bisa berfungsi optimal bagi anggota keluarga.

7. Keamanan

Perempuan selalu memikirkan keamanan dan keselamatan anggota keluarganya. Maka, rutinitas ibu-ibu adalah mengecek apakah anak-anaknya sudah pulang sekolah, sudah sampai di tempat les, atau sudah makan dan istirahat.


BERBAGI TUGAS pengasuhan anak dan beban rumah tangga membantu perempuan lepas dari tekanan fisik dan mental.-Jonathan Borba-Pexels

BACA JUGA:PM Jepang Teken Petisi untuk Tambah Jumlah Toilet Perempuan di Gedung Parlemen

BACA JUGA:Para Perempuan Adat di Balik Gaya Stylish Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum

Mengetahui bahwa anggota keluarganya aman dan baik-baik saja, artinya berkurang satu beban mental yang diusung.

8. Kehadiran

Memastikan anggota keluarganya tahu bahwa dirinya ada untuk mereka dan hadir untuk mereka sudah menjadi semacam nilai dasar seorang perempuan.

Maka, menjadi akomodatif adalah sifat yang selalu dipilih oleh perempuan. Sebab, dia pun tidak mau ketinggalan update orang-orang terdekat. 

Kepada Melissa Hogenboom dari BBC, Ruppanner mengatakan bahwa beban yang terlalu banyak itu harus dibagi. Maka, menemukan pasangan yang memahami kondisi mental perempuan adalah kunci untuk mengurai beban. 

BACA JUGA:Merawat Martabat Perempuan: Literasi sebagai Jalan Emansipasi dan Keadilan Sosial

BACA JUGA:Perempuan Adat Bolivia Menjaga Sejarah Lewat Rok Tradisional Pollera

"Ketika Anda merasa bahwa ada lapisan-lapisan perasaan yang harus diakomodasi, saat itulah perempuan menciptakan beban untuk dirinya sendiri," paparnya. 

Ruppanner menambahkan bahwa menghadirkan keluarga yang sempurna bukan hanya kerja tunggal perempuan. Semua anggota keluarga perlu dilibatkan juga.

"Anda perlu memvalidasi perasaan Anda sendiri. Apa yang orang lain rasakan terhadap Anda, bukan domain Anda. Maka, berlakulah seperlunya," tandasnya. (*) 

BACA JUGA:Konsistensi Siti Maimunah Menggerakkan Lensa Kritis Perempuan demi Keadilan Ekologis: Kedepankan Etika Agar Bijaksana

BACA JUGA:Ratusan Perempuan Masih Rentan, Kerap Jadi Korban Pelecehan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: bbc