Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo: Kampung Batik Jetis Tunggu Waktu Menuju Punah
Produksi batik di Batik Ny. Wida, Jetis, Sidoarjo. Usaha tersebut telah berlangsung selama tiga generasi.-Boy Slamet-Harian Disway
Ada berbagai permasalahan pelik di kalangan pebatik Kampung Batik Jetis, Sidoarjo. Limbah, minim bantuan pemerintah, Batik printing, dan besarnya biaya produksi. Jika tak ada tindak lanjut, eksistensi pebatik di kampung tersebut hanya menunggu waktu.
Seorang karyawan usaha Batik Ny. Wida menekur. Menekuni sebidang kain. Canting di tangannya bergerak mengikuti kontur motif. Pekerjaan itu membutuhkan perulangan. Sketsa, pewarnaan, penebalan. Kemudian penebalan lagi.
Itulah ciri khas batik Ny. Wida. Detail, warna tajam, motifnya ada di dua sisi. Bolak-balik. "Ini motif Dawuk Kembang Jatun. Memang prosesnya bertahap. Tidak bisa langsung jadi. Batik Ny. Wida mengutamakan kualitas," ujar Nurul Farida, nama karyawan itu.
Hingga kini, Batik Ny. Wida masih memiliki pembeli setia. Namun, keuntungan yang didapatkan tak cukup untuk menutup biaya produksi. Istilahnya, tak bisa jadi tumpuan penghasilan.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (4): Kampung Batik Jetis, Hidup Segan Mati Enggan
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (3): Kampung Batik Jetis, Canting Punya Nilai Seni

Motif Dawuk Kembang Jatun kreasi usaha Batik Ny. Wida di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo.-Boy Slamet-Harian Disway
Jauh berbeda dibandingkan kejayaan masa silam. Petrus Dwi, generasi ketiga pemilik usaha tersebut, mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah.
"Kurang support. Sebaiknya Pemerintah Daerah Sidoarjo menyediakan dana subsidi agar batik tidak mati. Kalau dibiarkan terus seperti ini, sama saja pemerintah membiarkan kekhasan kotanya hilang," ungkap Petrus.
Memang ada beberapa upaya dari pemerintah untuk membantu eksistensi pebatik di kampung tersebut. Seperti pengadaan pameran, membuat branding, membantu perizinan usaha, dan lain-lain. Namun, banyak di antara program itu tak berkelanjutan.
Rinaldi Kurnia, pengusaha muda dari Namiroh Batik di Kampung Jetis, mengeluhkan hal yang sama. "Bantuan-bantuan itu memang ada. Beberapa kali kami diajak pameran. Bagus, sih. Tapi urusan pembeli disuruh cari sendiri-sendiri," ujarnya, kemudian tertawa kecut.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (2): Kampung Batik Jetis, Musala Tiap Gang dan Jejak Dakwah Islam
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya
Keluhan lainnya, para pebatik di Kampung Jetis kerap ditegur soal limbah. Itu termasuk soal pelik. Sebab, dari tahun ke tahun, pebatik kampung tersebut memanfaatkan Sungai Jetis untuk proses membatik. Juga membuang limbah.
Dulu, sungai kecil yang membatasi sisi barat dan timur itu selalu ramai. Para pebatik melakukan proses melorot malam di sungai itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway