Dunia Semakin Malas, Anak-Anak Perlu Bergerak 60 Menit per Hari agar Sehat dan Bahagia
SISWA-SISWA melakukan gerakan senam ringan di sela pelajaran di sekolah. Aktivitas fisik meningkatkan kesehatan dan kecerdasan mereka.-Pavel Danilyuk-Pexels
"Kesehatan fisik meningkatkan kemampuan berpikir. Terutama, dalam mengurai tugas-tugas yang kompleks dan membutuhkan pemikiran serius," katanya.
BACA JUGA:Cegah Berbagai Penyakit, Pemerintah Wajibkan Label Gizi untuk Makanan-Minuman Siap Saji
BACA JUGA:Gaya Hidup Vegan Tak Harus Mahal, Ada 5 Bahan Nabati Lokal yang Lezat dan Bergizi
Di sisi lain, anak-anak yang bugar karena rutin berolahraga juga memiliki empati yang baik dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Mereka tidak reaktif dan tidak mudah emosi.
Jangan Malas Bergerak
Meningkatkan aktivitas fisik tidak selalu identik dengan kelas olahraga berbayar. Penelitian di Massachusetts menunjukkan bahwa mengubah kebiasaan anak-anak saja sudah cukup.
Di sekolah, anak-anak harus bergerak pada pagi hari sebelum kelas mulai dan pada siang atau sore hari sebelum pulang ke rumah. Rutinitas itu langsung mengubah kebugaran ana-anak dalam hitungan hari.
Selain itu, sekolah juga mengimbanginya dengan mengawasi asupan gizi anak didik mereka. Mereka didorong untuk mengonsumsi makanan sehat.
BACA JUGA:Diet Zero Sugar Jadi Gaya Hidup Selebriti, Benarkah Sehat?
BACA JUGA:Tren Digital Detox 2026, Gaya Hidup Sehat Tanpa Ketergantungan Gadget

DUDUK TERLALU LAMA karena asyik bermain games berdampak buruk pada kebugaran anak-anak.-Kampus Production-Pexels
"Hal terpenting untuk mencegah obesitas adalah mengubah pola makan anak-anak dan menciptakan program-program fisik yang membuat mereka bergerak. Di samping itu, pembatasan screen time sangat perlu diterapkan dengan tegas," papar Ulla Toft dari University of Copenhagen.
Di Denmark, Toft memfokuskan studinya pada empat hal. Yaitu asupan makanan, aktivitas fisik, screen time, dan kualitas tidur.
"Sebenarnya, tidak selalu tentang berolahraga. Yang paling tepat adalah bagaimana membuat anak-anak kita itu tidak terlalu sering duduk dan berbaring," papar Flaminia Ronca dari University College London's Institute of Sport, Exercise and Health.
Penelitian anyar di 30 sekolah di Inggris membuktikan bahwa program gerak badan membuat lingkar pinggang para siswa turun sekitar 8 persen. Sebaliknya, partisipasi para siswa dalam aktivitas olahraga di sekolah meningkat hingga 10 persen.
BACA JUGA:12 Cara Membiasakan Anak Makan Makanan Sehat
BACA JUGA:Menumbuhkan Kebiasaan Makanan Sehat pada Anak
Di sekolah-sekolah itu, menurut Ronca, guru mewajibkan anak-anak yang hendak bertanya atau menjawab pertanyaan di kelas, berdiri. Selain itu, guru juga menciptakan kondisi yang membuat anak-anak lebih banyak bergerak dan berjalan di dalam kelas.
Perlu Dukungan Penuh Orang Tua
Intervensi seperti yang disampaikan Logan, Toft dan Ronca itu tidak akan bertahan lama tanpa dukungan orang tua. Mengapa? Sebab, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu mereka di rumah atau bersama orang tua mereka.
"Para orang tua harus bisa menciptakan kebiasaan yang sehat juga di rumah," ujarnya. Orang tua yang aktif, menurut dia, akan mendorong anak-anak menjadi aktif pula. Bahkan, aktivitas fisik selama 30 menit saja sudah jauh lebih baik ketimbang tidak melakukan apa-apa.
Pembiasaan itu membutuhkan waktu dan tekad yang besar dari para orang tua.
BACA JUGA:Olahraga Ringan Tapi Konsisten vs Berat Tapi Jarang, Mana Lebih Sehat?
BACA JUGA:6 Olahraga Aman dan Efektif untuk Penderita Obesitas, Turunkan Berat Badan Tanpa Cedera
Bikin Percaya Diri Meningkat
Michaela James dari Swansea University's Medical School di Inggris mengatakan bahwa anak-anak yang bugar lebih percaya diri di sekolah. Demikian pula di rumah.
Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang membuat anak didik mereka lebih sering bergerak. Atau, lebih banyak berjalan kaki.
"Anak-anak bisa menjadi sangat kompetitif jika urusannya adalah aktivitas fisik. Itu bisa dimanfaatkan untuk membuat semua orang merasa punya kesempatan menjadi yang terbaik," paparnya
Olahraga, menurut dia, tidak perlu yang selalu terjadwal dengan rapi. Sesekali, sekolah bisa menciptakan aktivitas fisik kejutan yang tidak kaku dan formal. Bahkan, tidak menjadi bagian dari pelajaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: bbc