Dunia Semakin Malas, Anak-Anak Perlu Bergerak 60 Menit per Hari agar Sehat dan Bahagia
SISWA-SISWA melakukan gerakan senam ringan di sela pelajaran di sekolah. Aktivitas fisik meningkatkan kesehatan dan kecerdasan mereka.-Pavel Danilyuk-Pexels
HARIAN DISWAY - Zaman berubah. Kondisi new normal yang lahir pasca pandemi Covid-19 membuat anak-anak tidak banyak melakukan aktivitas fisik. Digitalisasi membuat mereka betah "beraktivitas" di dunia maya, dan sama sekali tidak ke mana-mana.
Fakta itu membuat para pakar dan ilmuwan gelisah. Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan membawa banyak kerugian. Tidak hanya bagi anak-anak itu sendiri, tapi juga untuk masa depan dunia.
"Di seluruh dunia, anak-anak sudah tidak seaktif zaman dulu. Itu bisa berdampak besar bagi kesehatan mereka dan kesehatan masyarakat pada umumnya," papar Nicole Logan, asisten dosen kinesiologi di University of Rhode Island, Amerika Serikat, sebagaimana dilansir BBC.
Ancaman paling nyata (dan kini sudah menjadi masalah kesehatan di banyak negara) adalah obesitas pada anak. Saat ini, satu dari 10 anak dan remaja mengalami obesitas di seluruh dunia.
BACA JUGA:Kemenkes Rancang Pajak Gula untuk Tekan Lonjakan Obesitas Anak
BACA JUGA:Pentingnya Edukasi Makanan Sehat untuk Cegah Obesitas Anak
Bersamaan dengan itu, waktu leyeh-leyeh alias tidak melakukan kegiatan apa pun juga melonjak tinggi. Itu selaras dengan naiknya angka pengidap stres.
Asupan makanan yang tidak sehat dan nyaris nihilnya olahraga menjadi penyebab utama. Namun, pemicunya tetaplah gaya hidup yang kian meninggalkan aktivitas fisik secara riil.
Kabar baiknya, karena penyebab utama kondisi yang tidak menyenangkan tersebut bisa dilacak dengan cepat, maka para pakar punya peluang tinggi untuk mengubah kondisi itu dan menurunkan risiko gangguan kesehatan akibat gaya hidup.
Setelah melakukan penelitian panjang, para pakar di Negeri Paman Sam menyimpulkan bahwa anak-anak perlu melakukan aktivitas fisik selama minimal 60 menit setiap harinya. Itu akan menyehatkan raga dan jiwa mereka sekaligus.
BACA JUGA:Indonesia SDM Hebat: Atasi Obesitas untuk Membangun SDM yang Berkualitas
BACA JUGA:Waspada Obesitas pada Anak, Begini Cara Mencegahnya

BERMAIN BERSAMA TEMAN di halaman sekolah atau di sekitar rumah lebih baik ketimbang hanya terpaku di depan layar gawai.-Muziyan Du-Harian Disway
Penelitian selama lima dasawarsa yang melibatkan 712 veteran Perang Dunia II membuahkan hasil sesuai prediksi Logan dan timnya. Rupanya, para veteran yang pada masa SMA mereka aktif berolahraga, terbukti lebih sehat pada usia mereka yang kini 70 tahun.
Mereka juga masih bisa melakukan aktivitas fisik seperti biasa. Bahkan, mereka juga sangat jarang periksa ke dokter karena hampir tak pernah sakit.
"Kebiasaan fisik saat anak-anak berdampak hingga saat kita tumbuh dewasa dan menjadi tua. Semua kebiasaan itu terbawa. Yang aktif saat kecil juga akan tetap aktif saat dewasa," terang Logan.
Mereka yang aktif berolahraga saat masih sekolah, punya indeks massa tubuh alias body mass index (BMI) yang rendah. Selain itu, lingkar pinggang mereka juga tetap kecil alias ramping. Yang lebih penting, kesehatan mental mereka terjaga. Demikian pula prestasi akademik mereka.
BACA JUGA:Kaum Rebahan Rawan Kena Obesitas, Perbanyak Aktivitas dan Baca Tips dari Kemenkes Ini
BACA JUGA:Tidak Sarapan Sebelum Ke Sekolah, Kasus Obesitas Pada Anak Terus Meningkat
Manfaat Kognitif
"Aktivitas fisik anak-anak meningkatkan komposisi tubuh dan meningkatkan kemampuan kognitif sekaligus," terang Logan. Menurut dia, aktivitas fisik meningkatkan performa cardiorespiratory manusia dan juga meningkatkan kemampuan otak.
Karena itulah, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendorong pembentukan kelompok-kelompok pendukung aktivitas fisik anak-anak dan remaja. Terutama, di sekolah-sekolah.
Para guru di sekolah menjadi pihak yang paling bisa memengaruhi anak-anak. Bahkan, mereka bisa memaksa anak-anak melakukan aktivitas di sekolah lewat kurikulum atau penyusunan rencana pembelajaran.
Misalnya, menjadwalkan olahraga ringan setiap hari. Uji coba yang Logan dan timnya lakukan terhadap sekelompok anak obesitas di salah satu sekolah di AS menunjukkan hasil yang signifikan.
BACA JUGA:Marak Kasus Obesitas, Kemenkes Sebut Karena Kurangnya Aktivitas Fisik
BACA JUGA:Intuitive Eating, Pola Makan Sehat yang Mengajarkan Kita Mengikuti Sinyal Tubuh

LAPANGAN menjadi lokasi yang ideal bagi anak-anak untuk berolahraga bersama teman atau sekadar menggerakkan badan.-Jeffry Surianto-Pexels
"Mereka yang obesitas dan mengikuti program kami, seiring berjalannya waktu menunjukkan performa akademik yang bagus. Itu bukti bahwa aktivitas fisik juga memengaruhi kemampuan otak manusia," terangnya.
Selain bertambah pintar, tentu saja anak-anak obesitas itu kemudian menjadi lebih fit. Berat badan mereka turun. "Lemak berlebih pada organ vital tubuh bisa memicu inflamasi yang menghambat kemampuan kognitif seseorang," ungkap Logan.
Kelincahan dan kegesitan tubuh yang menjadi ciri khas aktivitas fisik yang baik, berkontribusi baik terhadap konsentrasi dan kedisiplinan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: bbc