Paradoks Label AI: Ketika Transparansi Tidak Menjamin Kejujuran
Ilustrasi ChatGPT--

Budiono.--
Akhir-akhir ini saya perhatikan berbagai video di social commerce secara teknis sudah
memenuhi permintaan regulator dan platform: mencantumkan label "dibuat dengan AI". Sesuai
semangat Pasal 47 ayat (2) Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 19 Tahun 2026 yang sudah
saya bahas di tulisan sebelumnya. Namun ternyata video itu tetap menyimulasikan sosok yang
seolah-olah orang mengoleskan krim wajah dan memuji hasilnya dalam hitungan detik. Sebuah
pengalaman yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Di titik itulah saya sadar ada asumsi keliru yang diam-diam kita percayai bersama, baik
regulator, platform, maupun konsumen: begitu label AI tertempel, seolah urusan kejujuran
otomatis selesai. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda.
Label AI menjawab pertanyaan "bagaimana konten ini dibuat." Kejujuran klaim menjawab
pertanyaan "apakah yang disampaikan konten ini benar." Begitu dipisahkan, akan terlihat ada
empat kombinasi yang mungkin terjadi: berlabel dan jujur, yang jarang jadi masalah; tidak
berlabel namun kebetulan jujur, kasus langka yang biasanya cuma kelalaian teknis; tidak berlabel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: