Paradoks Label AI: Ketika Transparansi Tidak Menjamin Kejujuran
Ilustrasi ChatGPT--
dan tidak jujur, yang justru paling gampang dikenali dan ditindak karena pelanggarannya dobel
dan mencolok; dan yang terakhir, berlabel namun tetap tidak jujur. Kombinasi terakhir inilah
yang menurut saya paling berbahaya, sebab secara administratif pelaku usaha atau affiliate
marketer sudah patuh, tapi secara substansi konten tetap bisa menipu konsumen. Dan yang lebih
berbahaya, kepatuhan itu bisa menciptakan rasa aman yang semu bagi semua pihak.
Dugaan saya soal rasa aman yang semu ini dalam literatur komunikasi pemasaran disebut
disclosure paradox. Seperti pernah diteliti oleh Boerman dan koleganya, serta studi lanjutan
Beckert dkk yang menemukan bahwa label pengungkapan pada konten bersponsor memang
meningkatkan kesadaran audiens bahwa mereka sedang melihat konten persuasif — namun
belum tentu berdampak negatif pada kepercayaan dan minat beli. Sebuah meta-analisis yang
lebih baru bahkan mencatat bahwa dampak label terhadap penilaian konsumen atas merek
cenderung kecil dan bervariasi, bukan selalu negatif seperti asumsi awal regulator. Dengan kata
lain, label tidak selalu membuat konsumen lebih skeptis, dan dalam beberapa kondisi malah
membuat mereka lebih percaya, persis kebalikan dari tujuan awal kewajiban pemberian label itu
sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: