Kelas Menengah, Kemiskinan, dan Orientasi Kebijakan Ekonomi

Senin 26-01-2026,11:03 WIB
Oleh: Sukarijanto*

Kecemasan akan menyusutnya kelompok kelas menengah juga dialami Tiongkok. Meski pada prediksi sebelumnya oleh studi terbaru dari Word Data Lab memperkirakan lebih dari 1 juta orang di Asia akan bergabung dengan kelas menengah global pada 2030, tetapi karena hantaman pandemi Covid-19 tahun 2020–2022, prediksi tersebut mengalami perubahan yang signifikan. 

Selain faktor pandemi, penyebab utama, meskipun bukan satu-satunya, adalah krisis properti yang pernah menghantam di Tiongkok. Economic bubble di sektor properti telah mengganggu ekonomi dan keuangan Tiongkok sejak 2021, ketika pengembang real estat perumahan raksasa, Evergrande, mengumumkan bahwa mereka tidak dapat lagi memenuhi kewajiban keuangannya. 

Ketegangan keuangan yang disebabkan kegagalan sektor properti itu dan beberapa lagi yang menyusul di tahun-tahun sesudahnya telah menekan laju pembangunan rumah dan pembelian rumah. 

Kelas menengah di Tiongkok menjadi salah satu tulang punggung di sektor itu. Maka, ketika sumber utama kekayaan dan penghasilan kelompok kelas menengah Tiongkok mengalami tekanan, imbasnya akan memicu penurunan populasi mereka. 

Padahal, Tiongkok pernah menikmati masa-masa keemasan kelas menengah. Sektor itu merupakan pendongkrak pertumbuhan ekonomi melalui investasi kelas menengah yang agresif. 

Sayang, jutaan orang itu sekarang kehilangan pijakan. Banyak yang tergelincir kembali mendekati garis kemiskinan.

TERTEKAN KETIDAKPASTIAN GLOBAL

Data berbeda disajikan lembaga riset bisnis Pew Research Center dan menjadi perhatian otoritas pemerintah AS. Mereka yang berada di kelas menengah mengalami penyusutan lebih kecil daripada sebelumnya. 

Pada 1971, sebanyak 61 persen orang Amerika Serikat (AS) diklasifikasikan sebagai rumah tangga kelas menengah. Pada 2023, angka tersebut telah turun menjadi 51 persen. 

Adapun kelompok yang dianggap berpenghasilan rendah, ukurannya juga meningkat meski lebih rendah daripada kelas berpenghasilan tinggi. Akibatnya, kelas menengah terjepit dari kedua sisi, yang terakhir hanya membentuk 50 persen dari orang AS.

Salah satu tren yang sangat mengkhawatirkan berkaitan dengan kelas berpenghasilan rendah. Walaupun ukurannya telah meningkat, mereka telah menurun dalam kelompok pendapatan agregat. Antara tahun 1970 dan 2021, pendapatan kelas berpenghasilan rendah menurun dari 10 persen menjadi hanya 8 persen. 

Pertumbuhan pendapatan kelas menengah sejak 1970 belum mampu mengimbangi pertumbuhan pendapatan untuk mereka yang termasuk golongan berpenghasilan tinggi. Ironisnya, dari total pendapatan rumah tangga AS yang kontribusi terbesar disumbang oleh kelas menengah kini tengah mengalami fase penurunan tajam.

Bank Dunia dalam laporannya pada 2020 telah mengidentifikasi lima kelas masyarakat yang didasari pada perilaku konsumsi yang berbeda di Indonesia. Terdiri atas kelompok miskin, rentan, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas. 

Konsumsi kelompok itu tumbuh 12 persen setiap tahun sejak 2002. Hampir setengah atau 47 persen dari seluruh konsumsi rumah tangga Indonesia berasal dari kelompok kelas menengah itu. 

Secara harfiah, kelompok kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang tidak lagi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar dan hidup di atas garis kemiskinan, tetapi masih rentan terperosok jika sewaktu-waktu terjadi turbulensi yang mengganggu stabilitas ekonomi. 

Terlebih, di tengah perlambatan ekonomi global, daya beli kelas menengah terancam mengalami kontraksi. Hal itu dapat memaksa mereka untuk berpindah ke calon kelas menengah atau rentan sehingga mengurangi peran mereka sebagai kontributor pajak. Sebaliknya, meningkatkan ketergantungan mereka pada dukungan fiskal. 

Kategori :