Cara Tersangka Pembunuh di Depok Rekayasa Kasus: Manfaatkan Pesan WA

Selasa 17-03-2026,14:41 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Iman: "Tersangka menguasai HP korban. Kemudian ia melakukan komunikasi dengan orang-orang yang ada kaitannya dengan korban (kerabat dan teman-teman) menggunakan HP korban. Seolah-olah dirinya sebagai korban. Sehingga orang-orang terdekat dari korban tidak merasa curiga.”

Hari berganti, pekan berlalu, bulan pun berganti. Rumah itu berisi mayat korban yang terbukti para tetangga tidak mencium bau busuk. 

Ketua RT setempat Sagian Safrudin kepada wartawan mengatakan, ia terakhir kali melihat Dwi pada sekitar pertengahan September 2025. “Setelah itu saya tak melihatnya lagi. Kalau suaminya sejak dulu memang jarang kelihatan,” katanya.

Tetangga di kiri-kanan rumah Dwi mengaku, tak pernah mencium bau busuk di sekitar rumah korban. Sehingga tidak ada kecurigaan. Walaupun mereka tak tahu, ke mana Dwi pergi. Tetangga tidak mencari tahu.

Di Jabodetabek, hal semacam itu sudah biasa. Orang tidak terlalu peduli pada urusan individu tetangga. Kecuali, jika terjadi sesuatu yang merugikan tetangga.

Terus, apa yang ‘dimainkan’ pelaku dengan HP korban sehingga bisa mengecoh kerabat dan teman-teman korban?

Iman: “Anak korban ditelepon kerabatnya, diberitahu bahwa korban sejak beberapa bulan lalu tinggal di rumah teman sekolahnya di Sukabumi. Lalu kerabat menganjurkan si anak agar membersihkan rumah di Meruyung, yang mungkin tak terawat.”

Kerabat korban tidak tahu nama dan alamat teman korban di Sukabumi, yang dalam pesan WA (seolah-olah) dari korban kepada si kerabat, tidak menyebutkan nama dan alamat si teman. Polisi menduga, WA tersebut sengaja dikirimkan pelaku, demi mengecoh kerabat korban.

Pertengahan Februari 2026 anak korban inisial L mengajak pacarnya inisial R mendatangi rumah korban di Meruyung untuk bersih-bersih. Kedatangan mereka ke sana waktu itu sudah sore menjelang gelap. Mereka masuk rumah, lalu mereka melihat kondisi dalam rumah berantakan, terutama di kamar korban.

Karena saat itu hari sudah menjelang gelap, mereka menunda rencana membereskan rumah. Saat itu mereka cuma menggunting rumput di halaman depan rumah. Setelah itu mereka pergi.

Sabtu pagi, 7 Maret 2026 mereka balik kie rumah itu lagi untuk melaksanakan bersih-bersih rumah yang tertunda. Saat itulah mereka menemukan mayat Dwi tinggal tulang di lantai kamar. Mayat itu ditutupi karpet dan banyak pakaian. Juga ditemukan bubuk kopi berserakan di sekitar mayat.

Jelas, bahwa mereka dua dua kali masuk rumah tersebut namun tidak mencium bau bangkai. Mungkin, aroma dalam rumah tersebut memang tidak segar, tapi tidak bau bangkai. Mungkin, karena kondisi mayat sudah tinggal tulang sehingga tidak menyebarkan bau bangkai. Mungkin, anak korban mengira bau tidak enak itu akibat pintu-jendela rumah yang tertutup selama berbulan-bulan.

Pembunuhan model begini (pelaku memanfaatkan HP korban untuk mengecoh polisi) sudah sering terjadi. Tapi tidak seefektif di kasus ini. Yang nyaris membuat pembunuhan tak terungkap. 

Dikutip dari CBS News, 13 April 2025, berjudul Co-worker: Rex Heuermann once unnerved her by tracking her down on a cruise: "I told you I could find you anywhere, mengungkap kejadian semacam itu di Amerika Serikat (AS).

Di situ diungkapkan pembunuhan yang terkenal di AS, dijuluki pers setempat sebagai pembunuhan berantai Pantai Gilgo. Pantai itu terletak di Long Island, New York, AS.

Enam belas tahun silam, 1 Mei 2010 cewek bernama Shannan Gilbert yang waktu itu berusia 23 tahun, pekerja seks komersial, menelepon kontak darurat di AS, 911

Kategori :