Bud Wichers, Kontributor Harian Disway, Mengantre Bensin Hingga 8 Kilometer di Ukraina

Bud Wichers, Kontributor Harian Disway, Mengantre Bensin Hingga 8 Kilometer di Ukraina

Petugas SPBU memberikan tiket untuk warga yang mengantre bensin di Kota Kiev. Antrean bisa mencapai 5-8 kilometer pada Kamis, 4 Juni 2022.-Bud Wichers/Harian Disway-

KIEV, HARIAN DISWAY - Makin banyak pengungsi yang berkumpul di jantung Kota Kiev. Sudah banyak apartemen dan fasilitas publik yang roboh karena serangan roket. Namun harus diakui, itulah tempat paling aman bagi orang-orang yang belum dievakuasi atau tidak mau meninggalkan tanah airnya. 

GENAP sudah 100 hari serangan Rusia ke Ukraina hari ini, Jumat, 3 Juni 2022. Kontributor Harian Disway Bud Wichers sudah lima hari dalam liputan keduanya menembus medan perang di Ukraina.

“Hari ini aku tetap di Kiev. Aku ingin melihat kerusakan yang terjadi,” ujar Budiman, nama aslinya, Kamis, 2 Juni 2022. Budi masih di hotel pagi itu. Sirene kota cukup mengganggu jam istirahatnya semalaman suntuk. 

BACA JUGA: Bud Wichers, Kontributor Harian Disway, Tiba Lagi di Medan Perang Ukraina

Budi tidak bisa tidur di kamar hotelnya. Terlalu bahaya. Saat sirene berbunyi, semua orang harus ke bunker di bawah gedung. Budi sudah terbiasa dengan situasi itu. Dua bulan lalu kondisinya juga sama.

Namun, ia merasa sirene kali ini lebih sering berbunyi. Tensi serangan Rusia memang makin tinggi. Orang-orang yang tidur di bunker sangat frustrasi. Budi bisa melihatnya dari tatapan mata rakyat mereka. “You can call it traumatized city (kamu bisa menyebutnya kota yang sedang trauma),” ujar Budi dalam voice note yang dikirim lewat WhatsApp.


SEBUAH SALIB dengan ukiran Yesus tertancap di kuburan masal yang berisi ratusan korban tewas di kota Kiev Kamis, 2 Juni 2022.-Bud Wichers/Harian Disway-

Sinyal internet masih lemah di Kiev. Sama seperti saat perjalanan selama 13 jam dari perbatasan Polandia menuju ibu kota. Kami tak bisa berkomunikasi dengan lancar lewat video call atau telepon.

Dalam perjalanan menuju Kiev, Budi melihat antrean di SPBU hingga 8 kilometer. Krisis BBM menyelimuti seluruh wilayah Ukraina. Bahan bakar yang menipis itu diprioritaskan untuk keperluan militer. Di beberapa kota, bensin hanya dibatasi 20 liter per kendaraan. 

Budi mengirim foto antrean mobil itu. Seorang petugas memberi mereka tiket. Jika jatah tiket sudah habis, berarti ketersediaan bensin di SPBU sudah kosong. 

SPBU di Kiev relatif lebih banyak ketimbang daerah lain. Antrean maksimalnya hanya 5 jam. Namun harganya tetap sama: sama-sama mahal. “Isi bensin penuh sekitar Rp 1,8 juta. Naik tiga kali lipat,” lanjut fotografer dengan 20 tahun pengalaman di medan perang itu.

BACA JUGA: Karung Pasir di Lobi Hotel Ukraina

Kondisi ini membuat rakyat Ukraina semakin frustrasi. Banyak yang tidak bisa mengungsi karena mobilnya tidak mungkin sampai ke perbatasan negara tetangga. Mereka yang tidak bisa ke Moldova, Rumania, Hungaria, Slovakia, dan Polandia itu, berkumpul di Kiev.

Inilah yang membuat Kiev semakin padat pengungsi. Budi sempat heran mengapa kawasan ibu kota lebih ramai ketimbang dua bulan lalu, saat liputan pertamanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: