Delapan Pengakuan Iman dalam Sembahyang Genta Rohani

Delapan Pengakuan Iman dalam Sembahyang Genta Rohani

Sembahyang Ronde adalah nama lain Dongzhi/Tangcik. Umat Konghucu juga menyebutnya Sembahyang Genta Rohani. Kemarin, kelenteng Boen Bio menyelenggarakannya pada pukul 05.00.

AWAN bergulung mendung. Pagi cuaca cukup dingin. Dupa telah menyala, asapnya mengepul bergerak, semerbak harum memenuhi ruangan Kelenteng Boen Bio, yang terletak di Jalan Kapasan Dalam, Surabaya.

Di Tiongkok, Rabu 22 Desember, tepat pada hari persembahyangan Dongzhi, adalah puncak dari musim dingin. 

Dalam agama Konghucu, di tengah hawa menusuk tulang dan bulir-bulir salju, firman Tuhan turun pada Nabi Kongzi untuk menyebarkan ajaran kebaikan, menyempurnakan agama di tengah-tengah masyarakat.

“Nabi mengembara selama 13 tahun ke berbagai negara. Beliau membawa bok tok, atau genta untuk mengumpulkan dan mencerahkan masyarakat,” ujar Wen Shi Anuraga Taniwidjaja, pemuka agama Konghucu.

Pukul 04.00, sebelum persembahyangan Genta Rohani berlangsung, Holan, kepala seksi konsumsi Boen Bio telah memasak kuah manis untuk ronde. Dia juga membakar satu bulatan ronde yang ditusuk dengan lidi di atas api. “Tadi ada ibu hamil yang minta petunjuk jenis kelamin anaknya. Saya bakar tidak pecah. Berarti jabang bayinya laki-laki,” ujarnya.

Konon metode membakar ronde, menyebut nama ibu hamil serta meminta petunjuk Dewa Dapur, dapat memprediksi jenis kelamin bayi yang dikandung oleh ibu hamil tersebut. Jika bulatan ronde tidak pecah berarti laki-laki. Jika pecah berarti perempuan. Boleh percaya boleh tidak, tapi Holan sangat yakin dengan keakuratannya. “Saya bertahun-tahun selalu ditanya seperti ini sebelum sembahyang Ronde. Hasilnya tak pernah salah,” ujar perempuan 68 tahun itu. 

Namun hal itu baru bisa dilakukan ketika proses memasak jelang persembahyangan. “Hari biasa tidak bisa. Harus dilakukan saat memasak sebelum sembahyang,” ujarnya. Selain itu, ronde yang dibakar harus berwarna putih. “Putih kan melambangkan kesucian, kemurnian. Janin di dalam kandungan kan sifatnya masih murni,” tambahnya.

Pukul 05.00 tepat, terdengar bunyi lonceng bergema di dalam ruang peribadatan Kelenteng Boen Bio. Wen Shi Anuraga yang membunyikannya. Saat itu, ia dan Wen Shi Liem Tiong Yang bertugas sebagai pwe ce atau pendamping peribadatan. Pemimpin peribadatan atau cuce adalah Handoko Tjokro. Di sekitar altar tampak beberapa laki-laki dan perempuan mengenakan pakaian putih-hitam. Mereka disebut cipsu atau pembantu altar.

Prosesi peribadatan kurang lebih sama dengan peribadatan pada umumnya. Mereka berdoa, mengangkat tiga dupa sebagai simbol keharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan. 

Dibacakan pula Delapan Pengakuan Iman, antara lain: sepenuh iman percaya kepada Tuhan yang Mahaesa, sepenuh iman menjunjung kebajikan, sepenuh iman menegakkan firman gemilang, sepenuh iman menyadari adanya nyawa dan roh, sepenuh iman memupuk cinta berbakti, sepenuh iman mengikuti genta rohani Nabi Kong Zi, sepenuh iman memuliakan kitab suci, sepenuh iman menempuh jalan suci.

Beberapa kali para cipsu menyerahkan dupa tak bergagang, berjumlah sembilan batang, pada cuce dan pwe ce. Ketiganya bergantian berdoa di hadapan altar Tuhan, kemudian menancapkan batang-batang dupa tersebut ke dalam hio lo, atau tungku pedupaan.

Dupa berjumlah sembilan bermakna sebagai simbol kesempurnaan Tuhan. Bagi umat Konghucu, dupa berjumlah sembilan adalah jumlah tertinggi yang dapat digunakan untuk peribadatan. Mereka tidak pernah menggunakan dupa dengan jumlah di atas sembilan.

Dalam peribadatan tersebut, dipanjatkan pula doa bagi tanah air, berharap agar pemerintahan dapat berjalan lancar, memberikan pengayoman kepada rakyat. Juga, umat Konghucu berdoa demi keselamatan warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru serta harapan agar Bangsa Indonesia dapat terbebas dari pandemi.

Prosesi persembahyangan tangcik di Kelenteng Boen Bio, Rabu (22/12).
(Foto: Guruh Dimas Nugraha-Harian Disway)

Pada satu momen, Anuraga menuju podium sebelah utara altar. Ia membacakan riwayat perjalanan Nabi Kong Zi ke banyak negara selama 13 tahun. Dilakukan tepat ketika puncak musim dingin di Tiongkok berakhir. “Beliau membawa genta dan memberi pencerahan tentang agama dan kebajikan bagi rakyat. Itulah sebabnya nabi disebut orang suci yang membawa bok tok, dan digelari Tian Zhi Mu Duo,” ujar rohaniwan 53 tahun itu. Tian Zhi Mu Duo artinya adalah “Putra Tuhan yang membawa pencerahan rohani (genta rohani) pada masyarakat”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: