Dato Anwar

Dato Anwar

-Ilustrasi: Reza Alfian Maulana-Harian Disway-

DUA hal fenomenal terjadi pekan ini dan menjadi perbincangan luas di dunia internasional. Dua hal itu disebut-sebut sebagai indikasi kebangkitan Asia. Satu adalah pelaksanaan Piala Dunia di Qatar. Satunya terpilihnya Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri Malaysia.

Piala Dunia di Qatar, tak pelak, menjadi perbincangan paling panas beberapa hari terakhir. Tidak hanya karena terjadi kejutan tumbangnya Argentina dan Jerman pada pertandingan pertama, tetapi juga ramainya isu politik yang mencampuri urusan sepak bola.

Argentina secara mengejutkan takluk dari Arab Saudi 1-2. Sungguh sulit diterima akal. Tim sekelas Argentina yang bertabur superstar bisa kalah oleh tim gurun sekelas Arab Saudi. Biasanya pelatih sepak bola pusing memilih pemain yang bagus untuk sebuah pertandingan karena stok pemain terbatas. Namun, pelatih Argentina seharusnya bingung memilih pemain karena stok pemain bagus berlebihan.

Lionel Messi dan kawan-kawan menjadi salah satu hot favourite untuk memenangkan Piala Dunia kali ini. Argentina dua kali menjadi juara (1978 dan 1986) dan sangat ingin menambah gelar lagi untuk mengejar ketertinggalan dari Brasil, tetangga sekaligus musuh bebuyutan, yang sudah lima kali juara dunia. Messi juga menggantungkan mimpi terakhirnya untuk bisa membawa Argentina menjadi juara dunia sebelum pensiun.  

Kejutan lain yang lebih sensasional adalah kekalahan Jerman dari Jepang 1-2. Sama dengan Argentina, Jerman adalah salah satu favortit panas untuk menjadi juara dunia. Jerman dikenal sebagai tim diesel yang terlambat panas. Tapi, kalah dari Jepang bisa membuat diesel mogok dan harus tersingkir di babak penyisihan. 

Kemenangan Arab Saudi dan Jepang menjadi sejarah emas yang akan dikenang seumur hidup. Kemenangan itu bahkan disebut-sebut sebagai kebangkitan sepak bola Asia dalam menghadapi dominasi raksasa Eropa dan Amerika Latin. Perjalanan masih sangat jauh, tapi euforia di Asia sudah tumpah ruah ke mana-mana.

Piala Dunia kali ini unik karena sarat dengan isu-isu politik. Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah mengecewakan negara-negara superpower sepak bola di Eropa. Muncul isu suap yang melibatkan FIFA, otoritas sepak bola dunia, dalam penunjukan Qatar sebagai tuan rumah. Isu hak asasi manusia dan diskriminasi terhadap kelompok LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) menjadi isu panas yang mendistraksi konsentrasi banyak tim.

Kekalahan Jerman dari Jepang disebut-sebut sebagai akibat kurang konsentrasi pemain-pemain Jerman karena terdistraksi oleh isu LGBT. Tuan rumah Qatar melarang semua aktivitas dan simbol yang ditujukan untuk mempromosikan LGBT. Pemakaian ban kapten pelangi berlogo ”one love” dilarang oleh FIFA atas usulan tuan rumah.

Namun, Jerman tidak mundur. Dalam sesi foto menjelang pertandingan melawan Jepang, tim Jerman berpose dengan menutup mulut dengan tangan. Hal itu dimaksudkan sebagai protes terhadap tuan rumah dan FIFA yang dianggap membungkam hak-hak demokratis peserta Piala Dunia yang mendukung LGBT.

Qatar tetap tegas dengan sikapnya. Para pengkritik menyorot perlakuan represif dan diskriminatif Qatar terhadap LGBT dan para pekerja migran yang dikabarkan mendapat perlakuan buruk. Qatar membalas dengan menuduh negara-negara Eropa itu punya agenda politik tersembunyi untuk mendiskreditkan Qatar.

Baru kali ini dalam sejarah sepak bola dunia ada negara Islam yang menjadi tuan rumah dan bisa menampilkan pertunjukan yang extravagant. Baru kali ini ada resitasi dan fragmentasi Al-Qur’an dalam perhelatan olahraga internasional.

Sekalangan warga Islam di banyak negara menyebut Piala Dunia ini sebagai momen kebangkitan peradaban Islam. Kemenangan Arab Saudi pun dikaitkan dengan kebangkitan negara Islam dalam kancah peradaban olahraga internasional.

Di Malaysia, terpilihnya Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri juga dirayakan sebagai kebangkitan politik Islam. Anwar dilantik sebagai perdana menteri (24/11) oleh Yang Dipertuan Agung Raja Malaysia untuk mengakhiri krisis politk karena pemilihan raya tidak bisa menghasilkan pemenang mayoritas yang berhak membentuk pemerintahan dan mengangkat perdana menteri.

Anwar Ibrahim menjadi perdana menteri karena penunjukan langsung, bukan karena mendapatkan mandat demokratis dari rakyat. Hal itu tidak mengendurkan euforia di Malaysia dan di beberapa belahan komunitas Islam dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: