Brawijaya Awards, Babinsa Nganjuk Berpakaian Jaranan saat Penjurian

Brawijaya Awards, Babinsa Nganjuk Berpakaian Jaranan saat Penjurian

Para Babinsa Kodim nganjuk. Salah satunya Serda Nyamianto yang juga seorang seniman jaranan--

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Kodim 0810/Nganjuk mengawali hari kedua penjurian Babinsa Inspiratif dalam rangka Brawijaya Awards 2023, Sabtu, 29 April 2029. Para Babinsa (bintara pembina desa) pun mempresentasikan program-program mereka secara maksimal di hadapan juri dari Harian Disway.

Misalnya, Serda Nyamianto yang bertugas di Koramil 0810/03 Loceret. Ia tidak mengenakan baju loreng atau pakaian dinas lapangan. Nyamianto justru berpakaian hitam dengan aksen merah. Pakaian pemain jaranan.

Tak heran, Nyamianto memang pimpinan grup Manggolo Putro yang aktif di kesenian reog, kuda lumping, dan campursari. ’’Kebetulan saya jadi pemimpin. Tiba-tiba didapuk jadi pemimpin,’’ ucapnya.

BACA JUGA:Brawijaya Awards, Penanganan ODGJ oleh Babinsa Tulungagung Tarik Atensi Juri

BACA JUGA:Brawijaya Awards: Babinsa Kodim 0804/Magetan Jadi Dalang dan Dirikan Rumah Pintar


Serda Nyamianto bersama kelompok jaranan Manggolo Putro--

Selama hampir 1,5 tahun, Nyamianto aktif berkesenian. Dan aktivitas itu pun mendapat dukungan dari pimpinan. Kelompok beranggota 38 orang plus tiga penyanyi itu dibina langsung oleh Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Koramil 0810/03 Lonceret.

"Saya setiap ingin tampil, sebulan sebelumnya pasti minta izin dengan Komandan Koramil 0810/03. Beliau pasti izinkan. Komandan saya sangat mendukung program pelestarian budaya ini. Jadi, tidak pernah ada larangan," terangnya.

Nyamianto bukan sengaja memakai kostum saat paparan tersebut. Tetapi, momen penjurian memang bertepatan dengan kelompoknya tampil. ’’Ngapunten mengganggu tanggapannya,’’ ucap Noor Arief Prasetyo, ketua panitia yang memimpin tim juri tersebut.

BACA JUGA:Brawijaya Awards; Perjuangan Babinsa Kodim 0808/Blitar Yakinkan Warga Untuk Vasektomi

Penjurian itu memang membuktikan bahwa para babinsa memang punya inisiatif besar dalam inovasi tugas teritorial mereka. Misalnya Sertu Sugiarto yang berdinas di Koramil 0810/08 Baron. Ia mendirikan Yayasan Al-Muttaqin Sambiroto yang bisa menyantuni lebih dari 100 anak yatim.

Sugiarto juga menjadi penggagas penggalangan dana. Yayasan itu sudah punya belasan gerobak yang dilabeli Angkringan Babinsa. "Angkringan Babinsa I sudah menyantuni 20 anak yatim di Sumur Pandan. Angkringan Babinsa II, sudah bisa menyantuni lima anak yatim. Sisanya, kami mendapat bantuan dari donatur. Ini kami lakukan awalnya dari inisiatif teman-teman juga," terangnya.

Para babinsa lain juga tidak kalah memukau. Misalnya, Serka Suminto yang mengajar hadrah, Serka Nurkasan Handoko yang turun ke rumah-rumah untuk menangani stunting, Koptu Lukman yang menggalang penggemukan sapi jantan di peternakan, atau Serda Adiman yang menggalang olahraga dan senam pagi yang dipadu dengan dialog untuk mencegah masuknya paham radikal.


Serka Suminto mengajar Hadrah para pemuda di Bagor, Nganjuk--

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: