Brawijaya Awards, Babinsa Kodim Lumajang Kembangkan Kampung Religi hingga Bentuk Grup Reog

Brawijaya Awards, Babinsa Kodim Lumajang Kembangkan Kampung Religi hingga Bentuk Grup Reog

Babinsa Kodim 0821 Lumajang dalam penjurian Surabaya Tourism Awards.-Tira/Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Bintara Pembina Desa (Babinsa) punya tugas menjaga keutuhan NKRI. Program-program yang dipaparkan dalam Brawijaya Awards juga tidak terlepas dari hal tersebut. Kodim 0821/ Lumajang juga memaparkan program-program unggulannya di Brawijaya Awards, Kamis, 4 Mei 2023. 

Misalnya yang dilakukan Serka Pribawono di Kecamatan Seduro. Umat  Kristen, Islam, Hindu, dan Katolik hidup berdampingan. Untuk memanjamen konflik antar umat beragama. Pribawono aktif mengadakan kegiatan silahturahmi antar umat beragama. Pribawono menceritakan, ada 3 macam tempat ibadah di sana. Namun yang terbesar adalah Pura Mandala Giri Agung di desa Senduro. 

“Dalam pawai ogoh-ogoh diikuti oleh umat Islam dan Kristen. Dari desa dibawa oleh umat Islam dan Kristen. Kemudian diserahkan kepada umat Hindu di Pura,” ujar Pribawono.


Pribawono dari Kodim 0821 Lumajang memaparkan programnya di Brawijaya Awards 2023.-Tira/Harian Disway-

BACA JUGA:Brawijaya Awards: Kodim Banyuwangi Andalkan Pupuk Organik dan Penanaman Terumbu Karang

BACA JUGA:Brawijaya Awards, Cara Babinsa Pacitan Atasi Masalah Lingkungan, UMKM, dan Pertanian

Uniknya,Kecamatan Senduro juga memiliki sebuah kawasan yang disebut  kampung Pancasila. Tempat itu berpotensi sebagai Wisata Religi di Lumajang. Sehingga desa tersebut menjadi etalase kebhinekaan di Indonesia. “Bahkan ada 1 rumah yang anggota keluarganya memiliki agama berbeda-beda. Ada 3 agama dalam rumah itu. Kristen, Islam dan, Hindu,” katanya.

Ada pula Serka Heri Lesmono. Babinsa yang satu ini membina kelompok pemuda desa Dawuhan lewat olahraga. “Berawal dari keponakan saya yang mencari pelatih untuk latihan fisik menjadi anggota Polri. Keponakan saya membawa teman-temannya. Hingga akhirnya keponakan saya lulus menjadi anggota Polri,” ungkap Heri.

Dari situ akhirnya Heri berkomitmen untuk melatih pemuda yang ingin masuk sekolah kedinasan. “Bisa dibilang seperti bimbingan belajar. Karena kalau ke Surabayak jauh. Jadi saya buat di desa Dawuhan. Saya bina mereka secara fisik. Saya buatkan programnya” katanya.

Hasilnya, 6 orang di desa binaanya yang berhasil lulus masuk kedinasan yang dipilihnya. Ada 2 pemuda lulus menjadi anggota Polri, 1 IPDN, 2 Angkatan Laut, dan 1 orang di PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Sedangkan Sertu Joko Tulup, memilih kategori ekonomi masyarakat. Ia membantu pemasaran keripik tempe hasil UMKM di Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto. “Awalnya ada sales kripik tempe yang datang ke Koramil. Mengeluh kesulitan pemasaran. Akhirnya kami bantu lewat WA dan toko-toko yang ada,” kata Joko.

BACA JUGA:Brawijaya Awards, Babinsa Kodim 0824 Jember Renovasi Rumah hingga Orbitkan Atlet Renang

BACA JUGA:Brawijaya Awards, Kodim 0823/Situbondo Rangkul Masyarakat dari Berbagai Sisi

Apa yang dilakukan oleh Joko membuahkan hasil. Saat ini, keripik tempe dengan merk Pecah Seribu itu laris manis di pasaran. Produksi UMKM krepik meningkat pesat. Dalam sehari bisa menghabiskan 100 kilogram kedelai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: