Penjurian Lapangan Brawijaya Award (13): Kopi Ijo yang Ternyata Tetap Hitam

Penjurian Lapangan Brawijaya Award (13): Kopi Ijo yang Ternyata Tetap Hitam

JADWAL TANGGAPAN grup reog dan jaranan Manggolo Putro, Nganjuk, milik Serda Nyamianto sedang dipamerkan kepada Tim juri, Pudjio dari akademisi Universitas Airlangga dan pace Morris dari Harian Disway.-Elvina Talitha Alawiyah-

Setelah dari Tulungagung, tim 2 menuju Kodim terakhir. Yakni Kodim 0810/Nganjuk. Sama seperti di Tulungagung dan Kediri, ada tiga babinsa yang akan kami temui di sana.

Tugas kami belum selesai di Tulungagung. Sebelum menuju Nganjuk, kami harus mendatangi satu babinsa lagi. Serda Anwar. Babinsa inspiratif yang peduli dengan kesehatan. Anwar memang memiliki latar belakang keperawatan. 

“Sejak 2020 saya bergabung dengan pemdes. Saya memahami situasi wilayah dan kondisi ekonomi. Mendengar keluhan masyarakat. Ada berbagai masalah,” kata Anwar.


PENYULUHAN KESEHATAN yang dilakukan Babinsa Tulungagung, Serda Anwar tentang pentingnya tumbuh kembang anak dan menjaga kebersihan lingkungan.-Elvina Talitha Alawiyah-

Awalnya, pertemuan kami di Balai Desa Balerejo terasa kaku. Seperti ujian kenaikan pangkat. Tapi akhirnya bisa cair. Semua yang hadir aktif menceritakan sepak terjang Anwar sebagai babinsa Koramil 0807/13 Kauman.

Setelah itu, Kapten Yuniarto Pasiter Tulungagung menawarkan kami untuk ngopi di warkop. “O iya bang, sampeyan harus coba kopi khas Tulungagung. Kopi hijau,” kata Yuniarto ke saya. 

“Kopi yang tadi saya bilang itu lho bang, di sini tempatnya. Jangan bilang pernah ke Tulungagung kalau belum minum kopi ijo,” timpal Triyo, Bati Puanter. 

Wah kebetulan dari pagi saya, pak Pudjio, dan Alvin belum ngopi. Kami bertiga memang pecinta kopi. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengiyakan ajakan itu. Warung kopinya di pinggir sawah. Tidak jauh dari balai desa. Sekdes Balerejo pak Agus, beserta stafnya juga ikut ngopi.


JARANAN yang menjadi salah satu alat berkesenian grup reog dan jaranan Manggolo Putro, Nganjuk. Tampak ketua tim juri 2 Pace Morris sedang mencoba disaksikan Serda Nyamianto dan juri akademisi, Pudjio.-Elvina Talitha Alawiyah-

Kami penasaran dengan kopi ijo. Saya dan pak dosen memesan yang tanpa gula. Kami berdua ingin merasakan keaslian kopi ijo. Sementara Alvin dan Elvina minta yang pakai susu. Tidak beberapa lama pesanan kopi kami datang.

Tapi, kok warnanya hitam ya? Apa mereka salah antar? Saya pun tanya ke pelayannya. Apa yang dikasih ke saya bener kopi ijo? Karena ekspektasi saya, kopi ijo warnanya ya hijau. Bukan hitam.

Menurut pemilik warung, kopi ijo sebenarnya sama dengan kopi hitam lainnya. Hanya saja proses pemasakan biji kopinya yang berbeda. Kopi ijo tidak perlu sering diaduk. Makanya kopi ijo rasanya seperti gosong. Batuud Koramil Kauman, Peltu Exwan memberikan dan membawakan kami kopi ijo.

Kopi di cangkir sudah habis. Waktunya untuk berpindah kota. Perjalanan selanjutnya kami tempuh sekitar 3 jam. 

Tiba di Nganjuk, kami langsung menuju hotel. Selesai mandi, saya dan pak Pudjio menemui Kapten Jony. Berkoordinasi untuk kegiatan besok pagi. “Besok kita ketemu di Kodim ya mas. Nanti babinsa nya juga akan ke sana. Dari Kodim, baru kita menuju sasaran,” kata Jony.

Selesai koordinasi, saya memanggil Elvina dan Alvin untuk makan. Pak dosen Pudjio menunjukan warung bakmi jawa. “Di sini balminya enak,” kata Pak Pudjio. Setiap ke Nganjuk beliau selalu mampir di warung itu. Pilihan juri akademisi ini memang tepat. Bakmi dan nasi gorengnya memang enak. Usai makan, kami kembali ke hotel untuk istirahat. Mengumpulkan tenaga buat besok.

Paginya, seperti biasa pak dosen Pudjio menjadi orang pertama yang bangun dan sarapan. Saat saya dan Alvin menuju resto hotel, pak dosen sudah selesai makan. Sehabis makan kami langsung menuju ke Kodim Nganjuk. Kasdim  Nganjuk Mayor Inf Wiyono menyambut kedatangan kami.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: