Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (11): Tak Nyekep, Sok Berani

Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (11): Tak Nyekep, Sok Berani

Hidrochin Sabarudin menunjukkan posisi cekung pada celurit. Dalam teknik nyekep, ujung cekung itu diletakkan di pinggang, disembunyikan di balik baju. -Julian Romadhon-HARIAN DISWAY

BACA JUGA: Carok dan Pergeseran Nilai di Madura (9): Taneyan Lanjhang

"Mungkin sampai sekarang masih ada di desa-desa di pedalaman Madura. Meski sudah sangat jarang. Sebab, rawan disalahgunakan. Apalagi oleh anak-anak atau remaja yang emosinya belum stabil," ujar Andu.

Pun dalam kultur Madura masa lalu, setiap laki-laki harus nyekep. Bila tak melakukan, dianggap sombong atau sok berani. "Kalau dulu tidak nyekep, malah diejek. Tapi sekarang tradisi itu sudah sangat berkurang. Sebab, kini sudah ada hukum. Sudah ada petugas keamanan. Jadi kesadaran akan hukum sudah mulai muncul," ungkap Rony.
Budayawan Madura Hidrochin Sabarudin memegang celurit dan menjelaskan tentang berbagai teknik nyekep. Teknik untuk menyembunyikan senjata di balik baju. -Julian Romadhon-HARIAN DISWAY

Meski begitu, sebagian besar orang Madura masih menyimpan celurit di rumah mereka. Untuk jaga-jaga. Seperti pada peristiwa carok Tanjung Bumi, Bangkalan. Saat terjadi cekcok, korban bernama Mat Tanjar dan Mat Mat Tardam, menyuruh Hasan Busri, lawannya, untuk mengambil celurit di rumah. Sedangkan mereka menunggu di lokasi.

Celurit yang diambil Hasan berukuran cukup besar. Dengan celurit itu, bersama Mawardi, adiknya, berhasil menewaskan empat orang lawan. Termasuk Mat Tanjar dan Mat Tardam. Baik pelaku maupun korban menguasai ilmu bela diri dan teknik bermain celurit. 

Memainkan senjata tajam itu perlu teknik khusus. Dan di Madura, terdapat berbagai jenis senjata. Beberapa di antaranya menyerupai celurit, tapi berukuran besar. Seperti senjata yang digunakan tokoh pahlawan Pak Sakera ketika melawan Belanda di Pasuruan. (Guruh Dimas Nugraha)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: