Khasanah Ramadan (13): Beruzlah Mencari Hening

Khasanah Ramadan (13): Beruzlah Mencari Hening

BERUZLAH: Selama Ramadan, banyak yang menyendirikan jiwa raga untuk menemukan kesejatian. Me-nyuwung-kan jasad memendarkan ruhani menyapa Illahi dengan gerakan uzlah, topo, memes rogo lan roso, bertahannuts, berkhalwat, bermeditasi. --

HARIAN DISWAY - Puncak tangga Ramadan sedang bergerak dengan cepat. Saksikan, banyak orang menempuh jalan sunyinya masing-masing. Di tengah malam ada yang masih tinggal di sudut-sudut masjid. Ada yang di beranda gedung sambil termenung. 

Ada pula yang di punden-punden desa. Yang demikian itu sudah biasa sewaktu saya masih kecil di kampung halaman. Ada yang di makam-makam tua yang dikeramatkan.

Kuburan tertentu menjadi jujugan untuk menenangkan jiwa, areal berkelana, menggapai cita kedamaian. Ini juga lumrah di kalangan pengelana. 

Dunia santri dan Kejawen acap kali melakukan tirakat. Mandi tengah malam di kawasan tawajuh. Tempat yang memberikan pesan sangat bermakna bagi kaum pengamal tarekat.

Doa-doa diucapkan di wahana yang dipandang memiliki nada kosmis sangat ritmis bagi terkabulnya pengharapan. 

Simak saja sekarang. Datanglah ke makam-makam para waliyullah, ke makam Walisongo. Riuh oleh lantunan peziarah yang menuangkan cintanya dengan sepenuh jiwa.

Mereka meretas daya hidup untuk menepi ke teritorial yang dianggap berkah. Di makam itu mereka mengaji. Mereka mengheningkan ciptanya. Mereka istirah sejenak untuk menjedakan keramaian. 

BACA JUGA:Kilas Balik Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946

Begitulah saat Ramadan ini. Orang-orang urban seperti sedang kembali ke masa yang memberikan keteduhan hati. Tentu ini tidak masuk akal dalam perspektif akademik. Tetapi kenyataannya tidak usah ditampik. 

Ini adalah fenomena yang setiap insan boleh menempuhnya sesuai dengan kadar kebatinannya. Yang penting merasa aman-nyaman dan tidak mengusik. Apalagi bikin berisik. Justru komentar-komentar para pakar terkadang semakin memperkeruh suasana.

Dalam lingkup ini saya membuka kembali cerpen Bisik Bintang karya pengarang Mesir yang hebat, Najib Mahfuz (1911-2006). Karya peraih hadiah Nobel Sastra 1988 yang diterjemahkan dari bahasa Arab. 


IQRA: Banyak cara untuk melakukan uzlah baik utamanya di bulan Ramadan atau di luar itu. Ada yang mengheningkan diri dari hiruk pikuk dengan membaca buku. --

Karya ini merekam peristiwa perkotaan di Mesir. Tapi juga bisa terjadi di Surabaya, Jakarta, Medan, atau di mana pun. Dalam setiap kawasan ada potret yang terlukis: mengapa seseorang membutuhkan saat untuk bisa menyendiri menggapai ketenangan

Keheningan adalah sesuatu yang dibutuhkan. Cermati saja bahwa setiap lokasi kehidupan selalu ada keunikan temporer. Dalam bahasa Najib Mahfuz, di sebuah dunia orang-orang biasa ada yang sarat vitalitas. Yang kasat mata dan tidak kasat mata berkelindan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: