Jejak Manis Pabrik Gula: Dari Tanam Paksa hingga Masa Kini

Jejak Manis Pabrik Gula: Dari Tanam Paksa hingga Masa Kini

Pabrik gula Gondang Klaten adalah salah satu peninggalan dari masa penjajahan Belanda. --homecare24

HARIAN DISWAY – Gula adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, di balik setiap butiran manis itu, ada sejarah panjang yang terjalin sejak masa kolonial Belanda.

Indonesia, yang pernah menjadi salah satu produsen gula terbesar di dunia, memiliki kisah menarik tentang bagaimana industri itu tumbuh, berkembang, lalu perlahan meredup.

Jejak industri gula di Nusantara bermula pada awal abad ke-17, ketika Belanda melihat potensi besar di tanah Jawa. Pada masa itu, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mulai membudidayakan tebu dan membangun pabrik gula skala kecil.

Namun, industri itu benar-benar berkembang pada abad ke-19, saat pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel (1830-1870).

BACA JUGA:5 Pabrik Gula Bersejarah di Indonesia, Tidak Semuanya Angker, Ada yang Jadi Rest Area

BACA JUGA:5 Fakta Menarik Film Horor Pabrik Gula, Siap Hantui Penonton!


Pabrik gula di Jawa pada masa kolonial, bukti kejayaan industri gula Hindia Belanda. --homecare24

Di bawah sistem tersebut, petani pribumi dipaksa menanam tanaman ekspor, termasuk tebu, di lahan mereka. Gula yang dihasilkan dikirim ke Belanda, menjadikan industri itu sebagai salah satu penyokong utama ekonomi kolonial. Saat itu, Jawa dijuluki Pulau Gula karena produksi yang melimpah.

Memasuki akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, industri gula Hindia Belanda mencapai puncaknya. Banyak pabrik gula bermunculan di berbagai wilayah, terutama di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Pada 1930, tercatat ada sekitar 179 pabrik gula beroperasi di Indonesia, menjadikannya salah satu produsen utama gula dunia.

Pabrik-pabrik itu dilengkapi dengan teknologi modern saat itu, seperti mesin uap yang didatangkan dari Eropa. Para insinyur Belanda dan Jerman mengembangkan sistem irigasi yang canggih untuk mendukung pertanian tebu. Kota-kota industri kecil mulai bermunculan di sekitar pabrik gula, menciptakan pusat-pusat ekonomi baru.

BACA JUGA:Film Horor Pabrik Gula Tayang Hari Ini! Hadir dalam Dua Versi Kengerian

BACA JUGA:Sepur Lori Pabrik Gula (PG) Pagotan, Madiun

Salah satu pabrik gula yang masih bertahan hingga kini adalah PG Djatiroto di Lumajang, yang berdiri sejak 1901. Juga ada PG Gondang Baru di Klaten yang kini menjadi destinasi wisata sejarah.

Namun, kejayaan itu mulai meredup saat Perang Dunia II pecah. Pendudukan Jepang (1942-1945) menyebabkan banyak pabrik gula hancur atau dialihfungsikan untuk kepentingan militer. Setelah Indonesia merdeka, industri itu perlahan bangkit kembali. Tetapi tidak lagi semegah era kolonial.

Pada 1957, pemerintah Indonesia mengambil alih aset-aset perusahaan Belanda, termasuk pabrik gula, melalui kebijakan nasionalisasi. Banyak pabrik dikelola oleh negara di bawah PTPN (Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: