Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Tosari Serap Energi Negatif

Pawai ogoh-ogoh di Tosari, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu, dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi atau pada Jumat, 28 Maret 2025. -Yoni Astuti-
Dimulai pukul 12.30, ogoh-ogoh datang diusung para pemuda. Diiringi oleh umat Hindu, baik tua, muda, maupun anak-anak yang berpakaian adat Tengger. Juga diiringi musik tradisional ketipung, patrol, dan baleganjur.
Bentuk ogoh-ogoh beraneka rupa. Ada yang seperti raksasa yang sedang bertarung, makhluk menyeramkan yang menyeringai dan berkuku panjang, serta Rahwana yang akan menculik Sinta.
BACA JUGA: Semarak Pawai Seni Ogoh-Ogoh, Eri Cahyadi Serukan Guyub Rukun Warga Surabaya
Di pintu masuk rest area, ogoh-ogoh dan pengiring diperciki air suci oleh pemangku. Kata Kariadi, diperlukan sekitar Rp 6 juta hingga Rp 30 juta untuk membuat ogoh-ogoh dan ubo rampe yang menyertainya.
Sambil menunggu semua ogoh-ogoh datang, empat Romo Dukun Pandita memimpin upacara Tawur Agung Kasanga. Mereka melantunkan mantra, duduk di panggung di seperempat depan rest area.
Sebelum ogoh-ogoh diberangkatkan menuju lapangan di Dusun Ledok Sari sekitar 1 kilometer dari rest area Desa Tosari, seluruh umat Hindu khusyuk bersembahyang. -Yoni Astuti-
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan alam semesta serta menjaga keseimbangan energi antara manusia, alam, dan Tuhan. Tidak hanya ogoh-ogoh yang datang, kabut pun menghampiri. Seolah ingin ikut memperoleh berkat agar bisa membantu menyerap energi negatif dan membuangnya di langit.
BACA JUGA: Pawai Ogoh-Ogoh Meriahkan Nyepi di Balai Kota Surabaya: Toleransi dan Semarak Budaya
Jam 15.00 sebanyak 35 ogoh-ogoh dari 8 desa di Kecamatan Tosari dan 1 desa di Kecamatan Puspo telah datang. Ogoh-ogoh berjajar di pinggir rest area. Empat ogoh-ogoh dari Kecamatan Puspo ditempatkan di deretan depan agar bisa diberangkatkan lebih dulu.
Sementara umat Hindu yang mengiringi duduk rapi beralaskan tikar di belakang dan sebelah kiri panggung Romo Dukun Pandita. Sebelum ogoh-ogoh diberangkatkan menuju lapangan di Dusun Ledok Sari sekitar 1 kilometer dari rest area Desa Tosari, seluruh umat Hindu khusyuk bersembahyang.
Romo Dukun Pandita memimpin upacara Tawur Agung Kasanga sambil menunggu semua ogoh-ogoh datang dari 8 desa di Kecamatan Tosari dan 1 desa di Kecamatan Puspo. -Yoni Astuti-
Harum asap setanggi serta lantunan doa diringi genta yang dibunyikan empat Romo Dukun Pandita dan beberapa pemangku, mengalir indah menyejukkan sanubari. Menakjubkan, kabut menipis dan pelan-pelan menghilang.
BACA JUGA: Makna Tawur Kesanga, Upacara Penyucian dalam Perayaan Nyepi di Pura Segara Kenjeran Surabaya
Begitu sembahyang usai, tampak Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak tiba di rest area. Kedatangannya disambut tari pendet. Sama seperti yang lain, Emil dan putranya mengenakan udeng Tengger. Sementara istri dan putrinya mengenakan kaweng. Usai memberikan sambutan, sekitar pukul 16.00 Emil melepas pawau.
Masyarakat Tengger yang tidak ikut pawai menyaksikan ogoh-ogoh dari teras rumah. Jalanan dipenuhi umat Hindu yang mengiringi. Musik yang dipunyai setiap grup pembawa ogoh-ogoh, berbunyi bersamaan dengan irama riang. (*)
Yoni Astuti--
*) Pramuwisata, Anggota DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Surabaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: