Tim UB Ciptakan Pakan Sapi Berkualitas dari Limbah Pertanian untuk Peternak Madura

Tim UB Ciptakan Pakan Sapi Berkualitas dari Limbah Pertanian untuk Peternak Madura

Kelompok Tani Tani Agung 1 di Bangkalan dan produksi pakan ternak mereka. -Foto: Dokumentasi Tim UB-

BANGKALAN, HARIAN DISWAY – Universitas Brawijaya (UB) kembali membuat terobosan. Tim peneliti lintas fakultas PTN di Malang itu berhasil membuat sistem pakan sapi dari limbah pertanian seperti jerami padi, jerami jagung, tongkol jagung, dan kulit ketela.

Selama ini limbah pertanian tersebut dibuang atau dibakar. Melalui inovasi teknologi, limbah pertanian itu bisa disulap pakan sapi berkualitas yang mampu meningkatkan pertumbuhan sapi dan ekonomi peternak di Desa Dumajah, Kabupaten Bangkalan.

Inovasi tersebut diciptakan setelah tim UB menjalankan program berjudul: Akselerasi Inovasi Teknologi untuk Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani-Peternak Sapi Madura di Kabupaten Bangkalan. Ini merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. 

BACA JUGA:Pemprov Jatim Jadikan 5 SLB di Jatim Menjadi Sekolah Negeri

BACA JUGA:KY Nyatakan Tiga Hakim Kasus Korupsi Impor Gula Tom Lembong Langgar Kode Etik

Program ini diketuai oleh Prof Dr Ir Mashudi MAgrSc. Anggota timnya terdiri dari akademisi lintas fakultas meliputi Prof Dr Ir Kusmartono, Dr Ir Poespitasari Hazanah Ndaru SPt MP, Prof Dr Ir Mohammad Bisri MS, serta mahasiswa S3 Aprilia Dwi Kartika SPt MPt. Tim ini fokus mengatasi masalah utama peternakan rakyat: ketergantungan pada hijauan yang fluktuatif, terutama di musim kemarau, serta mahalnya biaya pakan komersial.

Ekosistem Sirkular

Solusi yang ditawarkan bersifat sistemik dan berkelanjutan dengan menyinergikan dua kelompok mitra yang saling melengkapi. Kelompok Tani Agung 2, yang beranggotakan petani tanaman pangan dengan potensi limbah pertanian melimpah, dilatih mengolah limbah tersebut menjadi silase berkualitas—pakan awetan yang tahan disimpan lama.

Sementara itu, Kelompok Tani Agung 1, yang beranggotakan peternak sapi Madura yang membutuhkan pakan sumber serat dan konsentrat, dilatih untuk memproduksi sendiri pakan konsentrat berbahan lokal serta mengolah limbah feses sapi yang melimpah menjadi pupuk kandang berkualitas.

"Ini adalah siklus yang saling menguntungkan. Petani menjual silase sebagai pakan serat kepada peternak. Peternak menggunakan silase itu, bersama konsentrat buatan sendiri, untuk pakan sapi. Limbah kotoran sapi kemudian diolah menjadi pupuk kandang dan dijual kembali kepada petani untuk menyuburkan lahannya. Ekosistem sirkular ini memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus ramah lingkungan," jelas Prof Mashudi.

Bobot Sapi Meningkat, Lingkungan Terjaga

Implementasi teknologi ini membuahkan hasil yang terukur. Sapi Madura yang diberi pakan hasil olahan kelompok (silase dan konsentrat) mengalami peningkatan Pertambahan Bobot Badan (PBB) harian dari rata-rata 0,35 kg per ekor menjadi mendekati 0,60 kg per ekor. Peningkatan ini sangat relevan bagi usaha penggemukan karena pakan merupakan komponen biaya terbesar.

Selain peningkatan bobot badan, performa reproduksi induk sapi juga membaik. Calving interval (jarak beranak) berhasil ditekan dari sebelumnya lebih dari 18 bulan menuju target di bawah 16 bulan. Di sisi lain, praktik pembakaran limbah pertanian berkurang drastis dan ketersediaan pupuk organik lokal meningkat.


Tim UB berhasil menciptakan pakan api berkualitas dari limbah pertanian. -Foto: Dokumentasi Tim UB-

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: