Habiskan Masa Liburan di Dalam Kota, Girang Lihat Lukisan Wajah di Cermin
TITAN memamerkan hasil lukisan wajah bertema peri di Magical Christmas Fairy Land Royal Plaza Surabaya pada Kamis, 1 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Mendekati berakhirnya masa liburan Natal dan Tahun Baru, aktivitas kreatif di dalam kota kian banyak disukai. Salah satunya adalah face painting alias melukis wajah. Diantarkan orang tua mereka, anak-anak menyesaki area Magical Christmas Fairy Land Royal Plaza Surabaya.
Sejak 12 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, pengunjung silih berganti memadati area khusus yang dirancang mirip dunia dongeng. Ornamen-ornamen yang identik dengan enchanted forest dan fairy land mendominasi salah satu sudut Atrium Utama Lantai G pusat perbelanjaan di kawasan Surabaya Selatan itu.
Alunan Fly to Your Heart yang mengumandang saat Harian Disway memasuki area tersebut menambah kental nuansa peri-perian di sana. Di antara banyak stan yang menawarkan pengalaman magical, stan milik Delta Body Art paling menarik perhatian. Antrean pengunjungnya paling panjang dibanding stan lainnya.
“Kalau sedang ada event di Royal Plaza seperti ini pengunjungnya bisa mencapai 100-150 per hari,” ucap Ayesha Naurasyifa, painter Delta Body Art, saat ditemui Kamis, 1 Januari 2026.

BERKONSENTRASI, Riska Putri Permata Sari melukis wajah Titan dengan tema peri pada Kamis, 1 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway
BACA JUGA:Sambut Sukacita Natal, Royal Plaza Gelar Christmas Charity
BACA JUGA:Semarak German Christmas Market, Tradisi Jelang Natal di Kanada
Liburan kali ini, pengunjung membeludak. “Semuanya antusias. Terutama yang anak-anak perempuan,” imbuhnya.
Siang itu, Ayesha sibuk. Sembari melayani wawancara, tangannya tak berhenti menari-nari di wajah pengunjung. Dengan terampil, perempuan ramah itu mengoleskan kuas ke palet, lalu menyapukannya dengan lembut pada wajah anak perempuan di hadapannya.
Ayesha tidak sembarangan melukis wajah pengunjung. Semuanya sesuai permintaan mereka. Baik bentuk maupun warnanya. Karakternya beragam. Ada yang fairy, floral, hingga pahlawan super seperti Spider-Man.
Setelah proses melukis selesai, Ayesha mempersilakan anak-anak itu melihat hasilnya di cermin kecil yang dia sodorkan. Seketika senyum merekah di wajah anak-anak itu. Pengunjung puas dengan lukisan Ayesha. Adegan itu selalu membuat Ayesha tersenyum senang dan bersemangat.
BACA JUGA:Sheraton Hotel Awali Masa Natal dengan Christmas Tree Lighting
BACA JUGA:Christmast Tree Lighting Ceremony di DoubleTree Hotel, Diramaikan Paduan Suara Naposo HKBP

SPIDER WEB digoreskan Ayesha Naurasyifa, painter Delta Body Art, ke pipi anak laki-laki yang mampir di stannya Kamis, 1 Januari 2026. Ia memesan face painting Spider-Man.-Ilmi Bening-Harian Disway
“Face painting kami mulai digemari sekitar 2024-2025 ini,” ujar Ayesha. Seni populer itu tidak hanya dikenal di Indonesia. Face painting juga tenar di Jepang, Kanada, dan Afrika.
Laman Illuminated Faces menuliskan bahwa face painting ditemukan ribuan tahun yang lalu. Seni itu mula-mula hidup dalam ritual dan upacara adat penduduk Australia dan Afrika.
Gambar yang dilukiskan di wajah bermacam-macam. Semuanya ada maknanya masing-masing. Ada yang melambangkan status, ada pula yang menggambarkan hubungan dengan Tuhan.
Pada zaman Mesir Kuno, perempuan dan laki-laki merias diri dengan kosmetika dari tembaga dan timbal yang difungsikan layaknya eyeshadow dan eyeliner. Seni melukis wajah juga muncul pada zaman Renaisans di Eropa sebagai salah satu unsur pertunjukan teater dan pesta topeng.
BACA JUGA:Lirik dan Terjemahan Lagu Lovin' The Christmas milik DAY6, Single Spesial untuk Musim Dingin Natal
BACA JUGA:Merry Christmas! Ini 10 Rekomendasi Lagu K-pop Bernuansa Natal
Negeri Paman Sam mempraktikkan face painting dalam perang dan upacara suku. Suku asli Amerika memanfaatkan face painting untuk berkomunikasi, menjalani ritual, dan menunjukkan identitas. Di Afrika dan Oseania, face painting menjadi unsur paling penting dalam kebudayaan mereka.
Memasuki abad ke-20, face painting tidak lagi sekadar hadir di upacara atau ritual adat. Tetapi, mulai menyebar ke momen festival, perayaan, dan acara tertentu. Termasuk, menjadi atraksi liburan seperti di Royal Plaza Surabaya.
Tina yang datang bersama putrinya, Titan, mengaku puas melihat hasil lukisan Ayesha di wajah buah hatinya yang berusia 7 tahun. “Ini sesuai banget dengan permintaaan anak saya,” ucapnya.
Sama seperti Titan, Auqi pun girang melihat lukisan di wajahnya. Agar lebih mirip peri impiannya, siang itu Auqi juga menyewa kostum peri. Dia tidak sabar memakai rok dan sayap berwarna pink.
BACA JUGA:Penyintas Kanker Hadiri Meet and Greet Film Sampai Titik Terakhirmu di Royal Plaza
BACA JUGA:Dinda Kanya Dewi dan Zulfa Maharani Sapa Penonton Lewat Acara Nobar Film Dasim di Royal Plaza Surabaya
“Warnanya menarik dan anak saya memang suka model yang seperti itu. Selain itu, dia juga suka fashion show. Jadi antusias pilih-pilih baju,” kata Putri Lia yang datang dari Sidoarjo.
Ayesha mengatakan bahwa cat yang digunakan untuk face painting cukup aman. Selain mudah dibersihkan, cat itu juga tidak memicu alergi.
Kendati demikian, hanya anak-anak yang usianya di atas 3 tahun saja yang dia sarankan untuk menjajal face painting. “Kurang dari 3 tahun ya boleh juga sih, asal tidak rewel,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: