New Year Anxiety Gara-Gara Serbuan Berita Miring dan Paparan Flexing: Jadi Cemas atau Tetap Waras?

New Year Anxiety Gara-Gara Serbuan Berita Miring dan Paparan Flexing: Jadi Cemas atau Tetap Waras?

KEMBANG API mewarnai langit Surabaya di kawasan Jalan Gubernur Suryo saat pergantian tahun pada Kamis dini hari, 1 Januari 2026.-Tirtha Nirwana Sidik-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Tahun baru artinya harapan baru dan peluang baru. Namun, ketidakpastian juga terhampar di sana. Kadang kala, ada ekspektasi tinggi yang memicu tekanan-tekanan besar. 

Ketika rasa cemas dan takut gagal mendominasi, maka tahun baru bukanlah hal yang menggembirakan. Dalam bayang-bayang kecemasan dan ketakutan, tahun baru adalah kecemasan baru. Itulah yang memunculkan fenomena new year anxiety

Pada laman resminya, Abhaya Wellness menuliskan bahwa kecemasan berlebih tentang ketidakpastian pada 2026 ini memicu rasa khawatir yang terus menerus. Jika kecenderungan ini tidak segera diatasi, kesehatan mental dan fisik akan terganggu. 

new year anxiety memicu kelabilan emosi. Menjadi mudah tersinggung, gelisah terus, dan sulit berkonsentrasi. Hal-hal tersebut mengganggu aktivitas harian.

BACA JUGA:Mengapa Time Anxiety Membuat Anda Selalu Dikejar Waktu Tanpa Henti?

BACA JUGA:5 Cara Membedakan Anxiety dan Intuisi


NEW YEAR ANXIETY muncul karena terlalu terpapar pencapaian orang lain lewat aksi flexing di medsos.-Boy Slamet-Harian Disway

Bagi generasi zaman sekarang, media sosial (medsos) juga menjadi pemicu yang paling berbahaya. Kebiasaan menggulir medsos dan mencari tahu segala hal dari internet membuat anak-anak muda tak bisa menghindari paparan konten pencapaian orang lain, foto liburan dan pernikahan, kelulusan, serta momen terbaik orang lain.

“Saya pernah merasa tertinggal dan cemas ketika menemukan konten yang memuat soal pencapaian di Instagram atau Tiktok. Lalu, lihat orang lain di umur yang setara bisa menabung dan punya apa saja,” curhat Amelia, freshgraduate di Surabaya, kepada Harian Disway Kamis, 1 Januari 2026. 

Tidak membandingkan kondisi diri sendiri dengan pencapaian orang lain memang nyaris mustahil di era medsos seperti sekarang. “Anxiety saat scrolling medsos kadang muncul, tetapi kadang juga tidak. Tergantung cara mengelola emosi. Tetapi, akhir-akhir ini rasanya jadi kesal dan emosi saat membaca tentang berita politik pemerintahan,” kata Usman, 24, karyawan swasta. 

Yang Amelia dan Usman alami adalah realita yang kian sering ditemui belakangan ini. Dr. Livia Istania DF Iskandar, M.Sc., Psikolog, mengatakan bahwa berita suram tentang bencana atau politik pemerintahan memang pemicu kecemasan yang umum. 

BACA JUGA:Bukan Malas, Ini Penjelasan soal Post-New Year Slump

BACA JUGA:Doomscrolling Media Sosial saat Tahun Baru Picu FOMO dan Overthinking


KECEMASAN membayangi pergantian tahun karena banyak ketidakpastian yang menanti. Jika kecemasan sampai mengganggu kinerja dan kesehatan, segera konsultasi ke ahlinya.-Boy Slamet-Harian Disway

Selain bikin stres, kabar-kabar miring yang terus menyerbu lewat medsos dan internet itu bisa berdampak negatif juga bagi fisik. “Kecemasan bisa memberikan efek tidak baik bagi organ pencernaan. Bisa memicu diare atau mual-mual,” tambah pendiri Yayasan Pulih (Pusat Pemulihan Trauma dan Penguatan Psikososial) di Jakarta itu.

Dalam psikologi, kecemasan terbagi atas facilitating anxiety dan debilitating anxiety. Yang pertama adalah kecemasan yang justru melecut motivasi dan meningkatkan kinerja. Sebaliknya, debilitating anxiety adalah kecemasan yang menurunkan kinerja seseorang.

Debilitating anxiety sebaiknya tidak dibiarkan karena bisa membuat kinerja jadi mogok. Jika gejalanya makin memperburuk kondisi seseorang dan tidak dapat tertangani dengan baik, penting untuk mencari bantuan dan berkonsultasi ke psikolog,” tutur Livia dalam wawancara dengan Harian Disway Sabtu, 3 Januari 2026.

Mereka yang bermasalah dengan kinerjanya perlu segera mendetoks diri dari medsos atau apa pun yang membuat mereka terpapar berita negatif. Termasuk, dari hal-hal yang membuat minder karena merasa tidak sekeren orang lain. 

BACA JUGA:Buku 22 Ways to Self-Love yang Ditulis Reffi Dhinar Ini Bantu Perempuan Usir Minder

BACA JUGA:Menerapkan Self Love di tengah Gempuran Overthinking


PSIKOLOG YAYASAN PULIH, Livia Istania DF Iskandar, menyarankan praktik mindfulness dan grounding untuk membantu mengurangi kecemasan. --Livia Iskandar untuk Harian Disway

Perempuan yang menjabat wakil ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Republik Indonesia (RI) 2019-2024 itu menyarankan penerapan mindfulness dan teknik grounding.

Dua teknik itu bisa membantu seseorang untuk lebih bisa menerima kondisinya dan berdamai dengan dirinya sendiri. Livia juga berpesan agar tidak terlalu menghiraukan ucapan orang lain yang sembarangan.

“Mengatakan orang kurang berdoa atau kurang pasrah kepada Tuhan saat mereka cemas itu toxic dan membuat mereka makin terpuruk. Padahal, yang mereka butuhkan adalah empati dan telinga untuk mendengar. Non-judgmental,” papar doktor lulusan Universitas Hawaii, Manoa, itu.

Kecemasan adalah hal yang wajar. Namun, memikirkan sesuatu yang tidak pasti sampai membuat overthinking itu tidak perlu. Apalagi, jika pikiran-pikiran itu sampai mengganggu kinerja dan kesehatan badan. “Jika sudah seperti itu, sebaiknya segera minta bantuan ke tenaga profesional,” tandas Livia. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: