Penasihat Senior Lab 45 Ingatkan Risiko Kepemimpinan yang Tidak Terinformasi Dengan Baik
Ilustrasi kepemimpinan yang tidak terinformasi dengan baik -AI Generated-
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Penasihat Senior Lab 45, Haryadi, menekankan pentingnya kelengkapan informasi bagi setiap pucuk pimpinan organisasi, mulai dari skala keluarga hingga tingkatan negara-bangsa.
Menurutnya, ketersediaan informasi yang relevan dan mencukupi adalah syarat mutlak dalam pengambilan kebijakan yang tepat guna.
Haryadi menjelaskan bahwa ketidaklengkapan informasi dapat menyebabkan pemimpin keliru dalam memahami realitas faktual. Hal ini berisiko melahirkan arah kebijakan yang tidak akurat atau "jauh panggang dari api".
"Dampaknya bukan sekadar tak menyelesaikan masalah, tapi bahkan menambah akumulasi masalah baru," ujar Haryadi pada 8 Januari 2026.

Penasihat Senior Lab 45 Haryadi, pernah menjadi Penasihat Senior Kepala Staf Kepresidenan -Lab 45-
BACA JUGA:Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026
BACA JUGA:PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD, Sebut Pengebirian Hak Politik Rakyat
Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga ini menambahkan bahwa akumulasi masalah tersebut pada akhirnya akan berwujud pada penderitaan publik (dukha). Dalam disiplin ilmu Panetika—pengetahuan yang mengukur derajat penderitaan publik—kondisi ini dapat diukur melalui indikator Gross Domestic Dukha serta Gross National Dukha.
Lebih lanjut, Haryadi menyoroti risiko yang muncul jika seorang pemimpin memiliki karakter "idiosinkratik" atau bertindak semaunya sendiri. Karakter ini cenderung menutup diri dari informasi luar dan hanya mau mendengar masukan dari lingkaran tertentu yang ia sukai.

ILUSTRASI Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Muhammadiyah Serukan Penanganan Bencana yang Empatik dan Bebas Muatan Politik
"Pemimpin yang semacam ini menyerupai seorang Tiran dalam arti yang sebenarnya. Nyaris pasti pemimpin dengan karakter Tiran akan menyebabkan perluasan penderitaan publik," tegasnya.
Kondisi kepemimpinan seperti ini, menurut Haryadi, menciptakan suasana yang menakutkan bagi masyarakat atau bawahan. Namun di sisi lain, kepemimpinan yang abai terhadap data dan realitas tersebut justru berisiko hanya menjadi bahan cemoohan di tengah masyarakat.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: