Dari EKSPRESI 2026, Icomsdependen dan Pijarswara Siap Terjun Langsung ke Industri

Dari EKSPRESI 2026, Icomsdependen dan Pijarswara Siap Terjun Langsung ke Industri

TIM ICOMSDEPENDEN menunjukkan produk-produk ramah lingkungan hasil olahan Yayasan Bina Bakti Lingkungan dalam EKSPRESI 2026 Selasa, 6 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menunjukkan bahwa kampus bukan sekadar tepat menimba ilmu. Di kampus, mahasiswa bisa mengabdikan diri kepada masyarakat dan lingkungan alam, serta menyalurkan kreativitas dan inovasi.

EKSPRESI 2026 atau Eksplorasi Karya dan Seni Ilmu Komunikasi Unesa 2026 berlangsung di Ciputra World Surabaya pada 6-7 Januari 2026. Ajang pamer karya mahasiswa itu mencakup penugasan empat mata kuliah. Yakni, DKV, Periklanan, Marketing Sosial, dan Studi Independen. 

Deretan stan yang berada di lantai 3 mal tersebut menampilkan beragam kreasi yang berkaitan dengan industri kuliner, media, dan aktivitas sosial bersama kelompok disabilitas. Dua yang menarik perhatian Harian Disway pada Selasa, 6 Januari 2026, itu adalah Icomsdependen dan Pijarswara.

Icomsdependen bekerja sama dengan Yayasan Bina Bakti Lingkungan soal kewirausahaan lingkungan. Tim dari Unesa membantu branding media sosial yayasan. Utamanya terkait promosi kegiatan pelestarian lingkungan serta workshop dan sosialisasi edukasi lingkungan.

BACA JUGA:EKSPRESI 2026 Unesa Tampilkan Puluhan Karya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terkait Re-Branding Produk hingga Studi Independen

BACA JUGA:Bersih Desa Berbuah Gelar, Trisakti Dikukuhkan sebagai Guru Besar Unesa


PENGUNJUNG meramaikan EKSPRESI 2026 di Ciputra World Surabaya pada 6-7 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Workshop dan sosialisasi edukasi linkungan dilakukan di SMP Kartika IV-11 dan SDN Ketintang 1 Surabaya. Tim gabungan memberikan pemahaman tentang pemilahan sampah dan pembuatan eco-enzyme dari kulit buah.

“Yang kami pakai adalah kulit buah nanas, pepaya, jeruk, semangka, dan mangga,” kata Valentina Indriyani Salianti, anggota Icomsdependen.

Kulit buah dicampurkan dengan cairan gula merah, lalu dimasukkan ke toples 10 liter. Campuran itu lalu ditutup plastik bening yang tebal. “Nutupnya harus rapat, jadinya diikat dengan karet. Fermentasi berlangsung tiga bulan dan tidak boleh ditutup dengan tutup toples,” lanjut mahasiswi yang karib disapa Indri itu.

Setelah tiga bulan, jamur Piterra tumbuh di dalam toples tersebut. Menurut Indri, baunya tidak busuk dan pH (tingkat keasaman, Red) tidak lebih dari empat. “Kalau muncul jamur hitam dan menimbulkan bau tidak sedap, tandanya pembuatan eco-enzyme gagal,” paparnya.

BACA JUGA:Unesa Kukuhkan 11 Guru Besar, Tingkatkan Misi Penelitian untuk Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi

BACA JUGA:Unesa Bawa 54 Medali SEA Games 2025, Bukti Kuat Kualitas Pendidikan Olahraga Nasional


ADITYA FAHMI NURWAHID berdiskusi dengan Tim Icomsdependen di sela pameran karya pada Selasa, 6 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Eco-enzyme lalu diolah menjadi pestisida, sabun cuci piring, sabun cuci tangan, deterjen, serta hand sanitizer. Produk-produk itu bisa dijual. Karena terbuat dari bahan alami, produk-produk tersebut tidak akan mencemari lingkungan.

“Kami berharap akan lebih banyak sosialisasi dan workshop serupa agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengelola sampah, terutama mengubah limbah organik menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi seperti eco-enzyme,” paparnya. 

Aditya Fahmi Nurwahid, dosen pengampu studi independen, mendukung kreasi para mahasiswanya. “Menurut saya, inovasi ini peranannya sangat penting supaya masyarakat juga bisa menyadari akan pentingnya menggunakan produk sehari-hari tetapi tidak merusak alam,” ucapnya.

Mata kuliah studi independen memungkinkan mahasiswa mengambil pembelajaran praktis di luar kurikulum kampus, seperti bootcamp, pelatihan intensif, atau pengembangan proyek inovatif bersama mitra industri/lembaga.

BACA JUGA:Mahasiswa UNESA Rebranding Produk dan Public Space Berbasis Teknologi Digital di Folkation 4.0

BACA JUGA:Prodi Desain Grafis UNESA Gelar Pameran Folkation 4.0, Ajak Mahasiswa Terjun Langsung ke Industri


TIM PIJARSWARA berfokus pada kualitas konten medsos Kebon Alam Ecoprint untuk meningkatkan engangement.-Ilmi Bening-Harian Disway

Sementara itu, Pijarswara bekerja sama dengan Kebon Alam Ecoprint, UMKM dari kawasan Sumur Welut. Salsabila Aldania mengungkapkan bahwa proyek itu bermula dari kesulitan UMKM tersebut untuk berpromosi. 

“Kami membuatkan konten di Instagram secara rutin. Namun, yang penting bukan jumlah kontennya. Kualitas kontennya itu lebih penting karena bisa memengaruhi ketertarikan audiens terhadap produk mereka,” papar Alda.

Konten edukatif tentang teknik ecoprint, jenis produk sekaligus bahannya, dan pola daun pada 
kain ternyata diminati. “Peningkatan interaksi dengan audiens mencapai 15 persen,” imbuhnya. 

Khaerani, ketua pelaksana EKSPRESI 2026 mengatakan bahwa proyek mahasiswa juga dipresentasikan dan dinilai oleh dosen. Meski begitu, nilai bukan menjadi satu-satunya unsur yang paling penting. 

BACA JUGA:Rangkaian Folkation 4.0 Unesa: Desain Ulang Penanda KBS Jadi Lebih Eye Catching

BACA JUGA:Dies Natalis ke-61 Unesa, Tingkatkan Kerja Sama Internasional

“EKSPRESI 2026 menjadi jembatan untuk menyalurkan kreativitas dan ide baru mahasiswa Ilmu Komunikasi Unesa,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: